Thursday, June 12, 2014

Pernikahan Beda Agama menurut Perspektif Sosiologi

Pengertian

Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial.

Agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, system budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/perintah dari kehidupan.

Perbedaan yaitu perihal yang berbeda; perihal yang membuat berbeda.

Agama menurut Perspektif Sosiologi

Konsep sosiologi agama, dalam pandangan sosiolog, agama diwujudkan dalam kehidupan masyarakat adalah fakta sosial. Sebagai fakta sosial, sosiolog agama dipelajari dengan menggunakan pendekatan ilmiah. Disiplin digunakan oleh sosiolog dalam studi masyarakat religius yang disebut sosiologi agama. Sosiologi agama adalah cabang ilmu yang otonom, muncul setelah abad ke-19. Pada prinsipnya, pengetahuan ini sama dengan sosiologi umum, sosiologi agama saat berbicara tentang salah satu aspek dari berbagai fenomena sosial, yaitu agama dalam perwujudan sosial. Sosiologi agama difokuskan terutama pada pemahaman arti yang diberikan oleh masyarakat kepada sistem keagamaan sendiri, dan berbagai hubungan antara agama dan struktur sosial lainnya, serta dengan berbagai aspek budaya bukan agama.

Sosiolog pandang agama agama sebagai arti luas dan universal, dari sudut pandang sosial dan bukan hanya berbicara tentang agama yang diperiksa oleh penganut agama tertentu, tetapi semua agama dan di semua wilayah di dunia tidak memihak dan memilah-milah. Studi mengangkat tidak diarahkan bagaimana orang yang religius, melainkan diarahkan untuk kehidupan keagamaan kolektif terutama difokuskan pada fungsi agama dalam mengembangkan atau menghambat kelangsungan hidup dan pemeliharaan kelompok masyarakat. Perhatiannya juga diarahkan pada agama sebagai salah satu aspek dari perilaku kelompok dan peran yang dimainkannya selama berabad-abad sampai sekarang.

PENDAPAT
Jadi menurut saya, pernikahan berbeda agama itu sah dan boleh akan tetapi tergantung juga dengan pandangan dari masing-masing orang apakah mereka mau menikah berbeda agama atau tidak. Akan tetapi di Indonesia banyak orang yang menikah berbeda agama dan itu legal dan sah apabila menikah secara benar. Menikah berbeda agama sangat tidak membatasi setiap orang untuk menikah, akan tetapi dari perbedaan itu mungkin saja akan memunculkan sesuatu yang lebih baik. Mungkin untuk beberapa orang menikah berbeda agama di anggap tidak baik karena akan merugikan kedua belah pihak, baik dari orang yang bersangkutan maupun keluarga atau karena mereka malu dengan pandangan orang lain di sekitarnya. Agama kita masing-masing juga telah menyebutkan "kasihilah sesamamu seperti kamu mengasihi dirimu" dari kata itu saja sudah sangat menunjukkan bahwa perbedaan agama tidak menghalangi kita untuk berinteraksi dengan orang lain, menjalin hubungan dengan orang lain yang berbeda agama, berbeda lingkungan sosialnya dan lainnya.


Perspektif dalam Sosiologi

Perspektif sosiologis adalah pola observasi sosiologi dalam mempelajari tentang kehidupan masyarakat dengan semua aspek kehidupan sosial atau proses di dalamnya.

1. Perspektif Evolusi

Evolusi itu sendiri didefinisikan sebagai perubahan sehingga jika dikaitkan dengan sosiologi yang berfokus pada pola-pola perubahan di masyarakat kehidupannya.Perpektif pandangan teoritis evolusi awal dalam sosiologi. Pandangan ini didasarkan pada karya Auguste Comte, Herbert Spencer, dan Ibnu Khaldun. Karakter ini terlihat pada pola perubahan dalam masyarakat. Mereka belajar dengan penekanan pada evolusi masyarakat.


Sampel Latar Belakang: Karena sistem yang mengatur kehidupan etik. Dan Individu tunduk pada sistem. Sistem ini datang melalui sebuah proses evolusi yang panjang dan saling ketergantungan antara bagian. Masyarakat juga berkembang dengan sendirinya terlepas dari kehendak dan kesadaran individu.


PENDAPAT
Pernikahan beda agama menurut perspektif evolusi, dari zaman ke zaman bahwa perubahan itu berfokus pada pola-pola perubahan di masyarakat. Yang berarti pada zaman dahulu pernikahan berbeda agama masih di tentang oleh berbagai pihak, dan seiring berjalannya waktu perubahan atau evolusi ini pun terjadi, berbagai pihak mulai mempertimbangkan dan menyetujui adanya pernikahan beda agama karena tidak merusak agama dari masing-masing pihak dan tidak menyeleweng dari agama mereka sehingga pada akhirnya pernikahan yang berbeda agama di anggap sah dan baik.

2. Perspektif interaksionis atau simbolik

Pandangan ini meneliti komunitas interaksi simbolik yang terjadi antara individu dan kelompok masyarakat. Orang-orang yang percaya pada interaksionis misalnya GH Mead dan CH Cooley. Mereka berpendapat bahwa interaksi manusia terjadi melalui serangkaian simbol yang meliputi gerakan, tulisan, ucapan, gerak tubuh, dan sebagainya. Pandangan ini lebih mengarah pada studi tentang individu atau kelompok kecil dalam masyarakat, bukan dalam kelompok besar atau lembaga sosial.

PENDAPAT
Pernikahan beda agama menurut perspektif interaksionis atau simbolik, jadi pernikahan beda agama itu memiliki makna tersendiri tergantung pada siapa atau bagaimana mereka memandang pernikahan beda agama itu sendiri. Apabila pernikahan beda agama dilakukan di desa yang masih memiliki kebudayaan yang sangat kuat sebagai contoh "suku Baduy", maka orang yang bersangkutan harus meninggalkan tempat itu dan tidak diperbolehkan tinggal disitu karena dianggap sudah menentang kebudayaan mereka. Berbeda lagi dengan di kota besar seperti contohnya "Jakarta", di Jakarta pernikahan beda agama sudah dianggap biasa dan tidak menentang kebudayaan yang ada. Maka dari itu dilihat dari bagaimana mereka memandang dan memaknainya.

3. Struktural Perspektif Fungsional

Dalam perspektif ini, masyarakat dianggap sebagai jaringan yang terorganisir, yang masing-masing memiliki fungsi. Pranata sosial dalam masyarkaat memiliki fungsi dan peran masing-masing yang saling mendukung. Masyarakat dianggap sebagai sistem yang stabil yang cenderung mengarah untuk mempertahankan sistem keseimbangan harmoni dan pandangan ini banyak intelektual memeluk Orde Baru mendukung kekuasaan pemerintah.

PENDAPAT
Pernikahan beda agama menurut perspektif fungsional, struktur tubuh manusia memiliki berbagai bagian yang saling berhubungan satu sama lain. Oleh karena itu, masyarakat memiliki kelembagaan yang saling terkait dan tergantung satu sama lain. Sama seperti halnya manusia dengan Tuhan, mereka saling terkait satu sama lain. Dalam agama mereka memang mempertahankan sistem keseimbangan harmoni, akan tetapi pernikahan juga merupakan berhubungan satu sama lain dan tergantung sama lain. Agama itu merupakan satu kesatuan, meskipun berbeda agama tetapi tujuan dan fungsi dari agama itu sama yaitu menyatukan satu sama lain untuk lebih dekat dengan Tuhan. Sehingga pernikahan beda agama itu menyatukan dua agama menjadi satu meskipun berbeda akan tetapi fungsi dan tujuan yang mereka inginkan itu sama yaitu dekat dengan Tuhan.

4. Perspektif Konflik
Pendekatan ini terutama didasarkan pada ide-ide Karl Marx. Teori konflik melihat orang-orang yang berada dalam konflik terus-menerus dalam kelompok atara atau kelas. Dalam pandangan teori konflik diakuasai masyarakat dengan beberapa kelompok atau orang-orang yang memiliki kekuatan dominan. Selain Marx dan Hegel tokoh lain dalam pendekatan konflik adalah Lews Coser.

PENDAPAT
Perang antar kelompok bisa disamakan dengan perjuangan untuk bertahan hidup dan terkuat yang menang dalam kehidupan sosial. Besar kebencian dan melekat antar kelompok, antar-ras dan antar-orang yang berbeda menyebabkan konflik yang tak terhindarkan. Pada zaman dulu pernikahan beda agama bisa akan menyebabkan perang antar kelompok, akan tetapi pemikiran orang akan terus berevolusi dan berkembang tidak hanya disitu saja, maka konflik ini makin lama akan semakin dipertimbangkan kembali kepentingannya dan tujuan dari konflik tersebut sehingga pemikiran orang mulai berubah, agama membantu mereka untuk bersatu, contohnya pernikahan yang berbeda agama, dengan salah satu contoh itu mereka menjadi mengesampingkan rasa kebencian satu sama lain yang sudah melekat antar kelompok, antar-ras, dan antar-orang yang berbeda.

Referensi: 

Thursday, June 5, 2014

Apa Kalian Yakin, Kalian Mengenal Kebudayaan di Indonesia?

Indonesia merupakan salah satu Negara yang kaya akan keaneka ragaman budayanya yang tersebar mulai dari Sabang sampai ke Merauke. Adanya keaneka ragaman budaya di Indonesia tidak terlepas dari banyaknya suku-suku yang menempati tanah nusantara ini, keberadaannya tidak bisa dihitung dengan jari bisa ratusan bahkan ribuan, dan salah satunya adalah suku Baduy.
Suku Baduy atau Orang Kanekes adalah suku asli masyarakat Banten. Komunitas suku ini tinggal di  Desa Kanekes. Mereka berada di wilayah Kecamatan Leuwidamar. Perkampungan mereka berada di sekitar aliran sungai Ciujung dan Cikanekes di Pegunungan Keundeng. Atau sekitar 172 km sebelah barat Ibukota Jakarta dan 65 km sebelah selatan ibu kota Serang.

Keberadaan mereka bisa dikatakan masih terisolasi dari masyarakat modern, tapi meskipun demikian mereka tidak menutup ruang untuk dapat dikunjungi oleh masyarakat moderen, sehingga berkunjung ke komunitas suku baduy pedalaman dijadikan salah satu objek wisata sekaligus penelitian sejarawan di daerah provinsi Banten.



Orang Kanekes atau orang Baduy/Badui adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayah Kabupaten LebakBanten. Populasi mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk difoto, khususnya penduduk wilayah Baduy dalam.

Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti 
Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993).

Wilayah Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana, 2001). Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan). suhu rata-rata 20 °C.
Tiga desa utama orang Kanekes Dalam adalah Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo.

Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Sunda–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Kanekes Dalam tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat-istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.
Orang Kanekes tidak mengenal sekolah, karena pendidikan formal berlawanan dengan adat-istiadat mereka. Mereka menolak usulan pemerintah untuk membangun fasilitas sekolah di desa-desa mereka. Bahkan hingga hari ini, walaupun sejak era Suharto pemerintah telah berusaha memaksa mereka untuk mengubah cara hidup mereka dan membangun fasilitas sekolah modern di wilayah mereka, orang Kanekes masih menolak usaha pemerintah tersebut. Akibatnya, mayoritas orang Kanekes tidak dapat membaca atau menulis.

Orang Kanekes memiliki hubungan sejarah dengan orang Sunda. Penampilan fisik dan bahasa mereka mirip dengan orang-orang Sunda pada umumnya. Satu-satunya perbedaan adalah kepercayaan dan cara hidup mereka. Orang Kanekes menutup diri dari pengaruh dunia luar dan secara ketat menjaga cara hidup mereka yang tradisional, sedangkan orang Sunda lebih terbuka kepada pengaruh asing dan mayoritas memeluk Islam.
Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtupanamping, dan dangka (Permana, 2001).
Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Kanekes Dalam (Baduy Dalam), yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Ciri khas Orang Kanekes Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala putih. Mereka dilarang secara adat untuk bertemu dengan orang asing.
Kanekes Dalam adalah bagian dari keseluruhan orang Kanekes. Tidak seperti Kanekes Luar, warga Kanekes Dalam masih memegang teguh adat-istiadat nenek moyang mereka.
Sebagian peraturan yang dianut oleh suku Kanekes Dalam antara lain:
·         Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi
·         Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki
·         Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Pu'un atau ketua adat)
·         Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi)
·         Menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern. Kelompok masyarakat kedua yang disebut panamping adalah mereka yang dikenal sebagai Kanekes Luar (Baduy Luar), yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Kanekes Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Masyarakat Kanekes Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam.
Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanekes Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkannya warga Kanekes Dalam ke Kanekes Luar:
·         Mereka telah melanggar adat masyarakat Kanekes Dalam.
·         Berkeinginan untuk keluar dari Kanekes Dalam
·         Menikah dengan anggota Kanekes Luar
Ciri-ciri masyarakat orang Kanekes Luar
·         Mereka telah mengenal teknologi, seperti peralatan elektronik.
·         Proses pembangunan rumah penduduk Kanekes Luar telah menggunakan alat-alat bantu, seperti gergaji, palu, paku, dll, yang sebelumnya dilarang oleh adat Kanekes Dalam.
·         Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua (untuk laki-laki), yang menandakan bahwa mereka tidak suci. Kadang menggunakan pakaian modern seperti kaos oblong dan celana jeans.
·         Menggunakan peralatan rumah tangga modern, seperti kasur, bantal, piring & gelas kaca & plastik.
·         Mereka tinggal di luar wilayah Kanekes Dalam.
·         Sebagian di antara mereka telah terpengaruh dan berpindah agama menjadi seorang muslim dalam jumlah cukup signifikan.
Apabila Kanekes Dalam dan Kanekes Luar tinggal di wilayah Kanekes, maka "Kanekes Dangka" tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh dari luar (Permana, 2001).

Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.
Pendapat mengenai asal usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai 'Tatar Sunda' yang cukup minim keberadaannya. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umum menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Kanekes sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.
Van Tricht, seorang dokter yang pernah melakukan riset kesehatan pada tahun 1928, menyangkal teori tersebut. Menurut dia, orang Kanekes adalah penduduk asli daerah tersebut yang mempunyai daya tolak kuat terhadap pengaruh luar (Garna, 1993b: 146). Orang Kanekes sendiri pun menolak jika dikatakan bahwa mereka berasal dari orang-orang pelarian dari Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda. Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Baduy merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala' (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang), bukan agama Hindu atau Budha. Kebuyutan di daerah ini dikenal dengan kabuyutan Jati Sunda atau 'Sunda Asli' atau Sunda Wiwitan (wiwitan=asli, asal, pokok, jati). Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama Sunda Wiwitan. Raja yang menjadikan wilayah Baduy sebagai mandala adalah Rakeyan Darmasiksa.

Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Buddha, Hindu. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari 'pikukuh' (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep "tanpa perubahan apa pun", atau perubahan sesedikit mungkin:
Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung.
(Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung)
Tabu tersebut dalam kehidupan sehari-hari diinterpretasikan secara harafiah. Di bidang pertanian, bentuk pikukuh tersebut adalah dengan tidak mengubah kontur lahan bagi ladang, sehingga cara berladangnya sangat sederhana, tidak mengolah lahan dengan bajak, tidak membuat terasering, hanya menanam dengan tugal, yaitu sepotong bambu yang diruncingkan. Pada pembangunan rumah juga kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya, sehingga tiang penyangga rumah Kanekes seringkali tidak sama panjang. Perkataan dan tindakan mereka pun jujur, polos, tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar.
Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. Hanya Pu'un atau ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen (Permana, 2003a).
Bagi sebagian kalangan, berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya, kepercayaan yang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya Islam.

Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional, yang mengikuti aturan negara Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi benturan. Secara nasional, penduduk Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu "Pu'un".
Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah "Pu'un" yang ada di tiga kampung tangtu. Jabatan tersebut berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis dari bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya. Jangka waktu jabatan Pu'un tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut.

Sebagaimana yang telah terjadi selama ratusan tahun, maka mata pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan.

Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat-istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Berdirinya Kesultanan Banten yang secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran mereka. Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba ke Kesultanan Banten (Garna, 1993). Sampai sekarang, upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat), melalui bupati Kabupaten Lebak. Di bidang pertanian, penduduk Kanekes Luar berinteraksi erat dengan masyarakat luar, misalnya dalam sewa-menyewa tanah, dan tenaga buruh.
Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara barter, sekarang ini telah mempergunakan mata uang rupiah biasa. Orang Kanekes menjual hasil buah-buahan, madu, dan gula kawung/aren melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.
Pada saat ini orang luar yang mengunjungi wilayah Kanekes semakin meningkat sampai dengan ratusan orang per kali kunjungan, biasanya merupakan remaja dari sekolah, mahasiswa, dan juga para pengunjung dewasa lainnya. Mereka menerima para pengunjung tersebut, bahkan untuk menginap satu malam, dengan ketentuan bahwa pengunjung menuruti adat-istiadat yang berlaku di sana. Aturan adat tersebut antara lain tidak boleh berfoto di wilayah Kanekes Dalam, tidak menggunakan sabun atau odol di sungai. Namun demikian, wilayah Kanekes tetap terlarang bagi orang asing (non-WNI). Beberapa wartawan asing yang mencoba masuk sampai sekarang selalu ditolak masuk.
Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, orang Kanekes juga senang berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan syarat harus berjalan kaki. Pada umumnya mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Kanekes sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.


SUMBER:
* Adimihardja, K. (2000). Orang Baduy di Banten Selatan: Manusia air pemelihara sungai, Jurnal Antropologi Indonesia, Th. XXIV, No. 61, Jan-Apr 2000, hal 47 – 59.
* Garna, Y. (1993). Masyarakat Baduy di Banten, dalam Masyarakat Terasing di Indonesia, Editor: Koentjaraningrat & Simorangkir, Seri Etnografi Indonesia No.4. Jakarta: Departemen Sosial dan Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial dengan Gramedia Pustaka Utama.
* Iskandar, J. (1991). An evaluation of the shifting cultivation systems of the Baduy society in West Java using system modelling, Thesis Abstract of AGS Students, [http://216.239.33.104/search?q=cache:imZECmAZwHwJ:mccweb.agri.cmu.ac.th/gra].
* Makmur, A. (2001). Pamarentahan Baduy di Desa Kanekes: Perspektif kekerabatan, [http://www.geocities.com/puslitmasbud_unpad/ARTIKEL_PAMARENTAHAN_BADUY.htm].
* Nugraheni, E. & Winata, A. (2003). Konservasi lingkungan dan plasma Nutfah menurut kearifan tradisional masyarakat kasepuhan Gunung Halimun, Jurnal Studi Indonesia, Volume 13, Nomor 2, September 2003, halaman 126-143.
* Permana, C.E. (2001). Kesetaraan gender dalam adat inti jagat Baduy, Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
* Permana, C.E. (2003). Arca Domas Baduy: Sebuah referensi arkeologi dalam penafsiran ruang masyarakat megalitik, Indonesian Arheology on the Net, [http://www.arkeologi.net/index1.php?id=view_news&ct_news=238]
* Permana, C.E. (2003). Religi dalam tradisi bercocok tanam sederhana, Indonesian Arheology on the Net, [http://www.arkeologi.net/index1.php?id=view_news&ct_news=45]
* Ascher, Robert, 1971 Analogy in Archaeological Interpretation, dalam James Deetz (ed.) Mans Imprint from the Past. Boston: Little Brown. Hal: 262271.
* Danasasmita, Saleh dan Anis Djatisunda,., 1986 Kehidupan Masyarakat Kanekes. Bandung: Sundanologi.
* Ekadjati, Edi S., 1995 Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah). Jakarta: Pustaka Jaya.
* Garna, Judhistira, 1988 Perubahan Sosial Budaya Baduy dalam Nurhadi Rangkuti (Peny.). Orang Baduy dari Inti Jagat. Bentara Budaya, KOMPAS, Yogyakarta: Etnodata Prosindo.
* 1993 Masyarakat Baduy di Banten, dalam Koentjaraningrat (ed.) Masyarakat Terasing di Indonesia. Jakarta: Gramedia . Hal. 120-152)
* Hoevell, W.R. van, 1845 Bijdrage tot de kennis der Badoeinen in het zuiden der residentie Bantam. TNI, VII: 335-430.
* Iskandar, Johan, 1992 Ekologi Perladangan di Indonesia: Studi Kasus dari Daerah Baduy, Banten Selatan, Jawa Barat. Jakarta: Djambatan.
* Jacobs, J. and J.J. Meijer, 1891 De Badoejs. s-Grahenhage: Martinus Nijhoff.
* Koorders, D., 1869 Losse Aantekeningeng tijdens het bezoek bij de Badois, BKI, LVI: 335-341.
* Kramer, C., 1979 Etnoarchaeology: Implication of Ethnography for Archaeology. New York: Columbia University Press.
* Mundardjito., 1981 Etnoarkeologi: Peranannya dalam Pengembangan Arkeologi di Indonesia, dalam Majalah Arkeologi 1-2, IV:17-29
* Permana, R. Cecep Eka, 1996 Tata Ruang Masyarakat Baduy. Tesis Antropologi Program Pascasarjana Universitas Indonesia.


Wednesday, June 4, 2014

Collective Behavior and Social Movements

Teori Perilaku Kolektif

Perilaku kolektif : " Perilaku yang relatif spontan dan tidak terstruktur dari sekelompok orang yang bereaksi terhadap pengaruh umum dalam situasi ambigu " ( Smelser )

Emergent - Norm Perspektif

Muncul perspektif norma : Selama episode perilaku kolektif , definisi perilaku apa yang tepat atau tidak muncul dari kerumunan .

Mencerminkan keyakinan bersama dipegang oleh anggota kelompok .

Value-Added Perspektif

Model nilai tambah : menjelaskan seberapa luas kondisi sosial yang berubah dalam pola tertentu ke dalam beberapa bentuk perilaku kolektif
- Kondusifitas Struktural
- Regangan Struktural
- Generalized keyakinan
- Faktor pencetus
- Mobilisasi tindakan
- Latihan kontrol sosial

Perakitan Perspektif

Perspektif Perakitan : meneliti bagaimana dan mengapa orang bergerak dari titik yang berbeda dalam ruang untuk lokasi umum:
- Rakitan periodik : berulang , pertemuan yang relatif rutin seperti kelompok kerja , kelas kuliah , acara olahraga 
- Rakitan Nonperiodik : meliputi demonstrasi , parade , dan pertemuan di acara-acara seperti kebakaran dan penangkapan

Massa

Massa : Pengelompokan sementara orang di dekat yang berbagi fokus umum atau kepentingan
- Tidak benar-benar kurang dalam struktur
- Bahkan selama kerusuhan , peserta diatur oleh norma-norma sosial diidentifikasi dan menunjukkan pola-pola tertentu perilaku
- Perspektif Emergent - norma menunjukkan bahwa norma sosial baru diterima
- Diambil makna baru dengan Internet

Perilaku bencana

Bencana : Tiba-tiba atau mengganggu kejadian atau peristiwa yang overtaxes sumber daya masyarakat yang membutuhkan bantuan dari luar

Penelitian bencana
- Bencana Research Center di University of Delaware

Studi Kasus : Keruntuhan World Trade Center dan Badai Katrina
- Dicirikan banyak keunggulan dari pemulihan bencana
- Bahkan dalam setelah tak terbayangkan bencana , orang dan organisasi merespon dengan cara yang dapat diprediksi

Mode dan Fashions

Mode : pola sementara perilaku yang melibatkan sejumlah besar orang

Fashions : Massa menyenangkan keterlibatan yang menampilkan penerimaan oleh masyarakat dan kontinuitas sejarah

Panik dan kegilaan

Craze : keterlibatan massa yang menarik yang berlangsung selama jangka waktu yang relatif lama

Panic : gairah takut atau kolektif penerbangan didasarkan pada keyakinan umum yang mungkin atau mungkin tidak akurat 

Rumor

Rumor : Sepotong informasi yang dikumpulkan secara informal digunakan untuk menafsirkan situasi ambigu
- Menyediakan kelompok dengan keyakinan bersama
- Sarana beradaptasi dengan perubahan
- Memperkuat ideologi masyarakat dan kecurigaan media massa

Publik dan Opini Publik

Public : kelompok tersebar orang , belum tentu berhubungan dengan satu sama lain , yang berbagi minat dalam masalah

Opini publik : ekspresi sikap mengenai masalah-masalah kebijakan publik yang dikomunikasikan kepada para pengambil keputusan

Gerakan Sosial

Gerakan sosial : menyelenggarakan kegiatan kolektif untuk membawa atau menolak perubahan dalam kelompok atau masyarakat
- Gerakan-gerakan sosial memiliki dramatis berdampak pada perjalanan sejarah dan evolusi struktur sosial
- Fungsionalis : berkontribusi pada pembentukan opini publik semakin mengambil dimensi internasional

Perampasan Pendekatan Relatif 

Kekurangan relatif: perasaan sadar negatif perbedaan antara harapan yang sah dan aktualitas hadir

Sebelum ketidakpuasan disalurkan menjadi gerakan sosial, orang harus merasa mereka: 
- Memiliki hak untuk tujuan mereka 
- Menganggap mereka tidak bisa mencapai tujuan melalui cara konvensional 

Mobilisasi Sumber Daya 

Mobilisasi sumberdaya: Cara gerakan sosial seperti memanfaatkan sumber daya sebagai uang, pengaruh politik, akses ke media, dan pekerja 
- Oberschall: untuk mempertahankan sebuah gerakan sosial, harus ada organisasi dasar dan kontinuitas kepemimpinan
- Marx: pemimpin perlu membantu para pekerja mengatasi kesadaran palsu - sikap yang tidak mencerminkan posisi obyektif pekerja 

Gender dan Gerakan Sosial 

Wanita merasa lebih sulit daripada laki-laki untuk menganggap posisi kepemimpinan dalam organisasi gerakan sosial 


Gender dapat mempengaruhi cara kita melihat upaya terorganisir untuk membawa tentang atau menolak perubahan 

Gerakan Sosial Baru

Gerakan sosial baru : kegiatan kolektif terorganisir yang mempromosikan otonomi , penentuan nasib sendiri , dan peningkatan kualitas hidup
- Gerakan sosial baru umumnya tidak melihat pemerintah sebagai sekutu mereka

Komunikasi dan Globalisasi Perilaku Kolektif

Global -pesan teks dan internet memungkinkan aktivis sosial untuk mencapai orang-orang seketika

Listserves Internet dan chatroom memungkinkan penyelenggara gerakan sosial untuk meminta orang yang berpikiran tanpa kontak face-to - face

Televisi dan internet dapat menyampaikan rasa palsu keintiman diperkuat dengan kedekatan

Computer- Mediated Communication ( CMC )

Hak Penyandang Disabilitas

Melihat Isu
- Upaya untuk memastikan kesehatan dan hak-hak penyandang cacat telah berkembang sejak awal 1960-an
- Gaib banyak cacat kendala

Menerapkan Sosiologi
- Perspektif Pelabelan : ADA suatu framing signifikan dari masalah hak penyandang cacat
- Teori Konflik : ADA adalah bagian dari 40 tahun gerakan hak-hak sipil
- Interactionists : fokus pada hubungan sehari-hari orang-orang dengan dan tanpa cacat

Memulai Kebijakan
- Grup merasa badan-badan federal yang terlalu berhati-hati dalam menegakkan ADA

- Aktivis hak Cacat mempertanyakan visitability - aksesibilitas rumah-rumah pribadi untuk pengunjung penyandang cacat

referensi: Slide Binus Maya Collective Behavior and Social Movements

Collonialism and Development, Cultural Exchange and Survival

COLONIALISM AND DEVELOPMENT

Kolonialisme

Kolonialisme : pengembangan kekuasaan sebuah negara atas wilayah dan manusia di luar batas negaranya, seringkali untuk mencari dominasi ekonomi dari sumber daya, tenaga kerja, dan pasar wilayah tersebut.

Istilah ini juga menunjuk kepada suatu himpunan keyakinan yang digunakan untuk melegitimasikan atau mempromosikan sistem ini, terutama kepercayaan bahwamoral dari pengkoloni lebih hebat ketimbang yang dikolonikan.

Imperialisme 

Imperialisme mengacu pada kebijakan memperluas kekuasaan suatu bangsa atau kerajaan atas bangsa-bangsa asing dan mengambil dan menahan koloni asing 


Kolonialisme mengacu pada dominasi politik, sosial, ekonomi, dan budaya suatu wilayah dan rakyatnya oleh kekuatan asing untuk jangka waktu.

Kolonialisme Inggris 

Pencarian untuk sumber daya dan pasar baru untuk meningkatkan keuntungan memicu kolonialisme Inggris.

Tahap pertama dari kolonialisme Inggris terkonsentrasi di New World, barat Afrika, dan India dan datang ke dekat dengan Revolusi Amerika. 

Selama periode kedua kolonialisme, Inggris akhirnya menguasai sebagian besar India, Australia, Selandia Baru, Kanada, dan sebagian besar dari Afrika timur dan selatan. 

Upaya kolonial Inggris dibenarkan oleh apa Kipling disebut "beban orang kulit putih" yang menegaskan bahwa penduduk asli tidak mampu mengatur diri mereka sendiri dan membutuhkan putih, kolonialis Inggris menyediakan dan menjaga ketertiban.


Kolonialisme Perancis 

Kolonialisme Prancis lebih disebabkan oleh negara, gereja, dan militer, bukan oleh kepentingan bisnis. 

Tahap pertama dari upaya kolonial Perancis difokuskan di Kanada, Wilayah Louisiana, Karibia, dan Afrika Barat. 

Selama fase kedua kolonialisme Perancis (1870 Perang Dunia II), kekaisaran tumbuh dengan menyertakan sebagian besar Afrika utara dan Indochina. 


Legitimasi ideologis untuk kolonialisme Prancis adalah civilisatrice misi (mirip dengan "beban orang kulit putih"); untuk menyebarkan budaya Prancis, bahasa, dan agama di seluruh koloni.


The French menggunakan dua bentuk pemerintahan kolonial:
- Pemerintahan tidak langsung mengacu pada praktek Perancis memerintah melalui struktur politik pribumi dan pemimpin. 

- Pemerintahan langsung mengacu pada praktek Perancis memaksakan pemerintahan baru pada penduduk asli.


Kolonialisme dan Identitas 

Perbedaan etnis dan politik di seluruh dunia sangat terganggu oleh kolonialisme.

Sebagai contoh, banyak dari batas-batas politik modern di barat Afrika didasarkan pada linguistik, politik, dan ekonomi kontras yang merupakan hasil dari kebijakan kolonial Eropa di wilayah tersebut. 

Studi Postkolonial 

Kajian postkolonial mengacu pada penelitian yang menargetkan interaksi antara negara-negara Eropa dan masyarakat yang mereka dijajah. 

Istilah ini juga digunakan untuk merujuk pada paruh kedua abad ke-20. 

Istilah ini juga dapat digunakan untuk menandakan posisi melawan imperialisme dan Eurosentrisme.


The postcolonies dapat dibagi menjadi pemukim, nonsettler, dan dicampur: 
- Postcolonies Settler meliputi negara-negara yang didominasi oleh pemukim Eropa dengan penduduk asli hanya jarang (misalnya, Australia) 
- Postcolonies Nonsettler ditandai dengan penduduk asli yang besar dan hanya sejumlah kecil orang Eropa (misalnya, India). 
- Postcolonies Campuran mengacu pada negara-negara dengan baik penduduk asli dan Eropa yang cukup besar (misalnya, Afrika Selatan dan Kenya)

Perkembangan: Filosofi 

Perkembangan (Development) merupakan suatu proses yang pasti di alami oleh setiap individu, perkembangan ini adalah proses yang bersifat kualitatif dan berhubungan dengan kematangan seorang individu yang ditinjau dari perubahan yang bersifat progresif serta sistematis di dalam diri manusia.

Sebuah filosofi intervensi adalah pembenaran ideologis untuk campur tangan dalam kehidupan penduduk asli, didasarkan pada asumsi bahwa seseorang memiliki cara yang unggul hidup atau berpikir. 

Pembangunan ekonomi rencana-industrialisasi, modernisasi, westernisasi, dan individualisme adalah kemajuan evolusi diinginkan yang akan membawa manfaat jangka panjang kepada penduduk setempat.

Perkembangan: Masalah 

Masalah Terkait dengan Intervensi dan Pengembangan Sempit Fokus:
- Situasi dianggap sebagai masalah yang dihasilkan dari gaya hidup pribumi mungkin sebenarnya akibat dari dampak sistem dunia pada gaya hidup itu. 
- Efek sistemik proyek pembangunan sebenarnya bisa berbahaya (misalnya, pajak, dan kenaikan sewa dalam menanggapi mengangkat pendapatan). 

- Ahli difokuskan secara sempit tidak mungkin untuk menyadari implikasi spektrum yang luas dari skema pembangunan.

Penghijauan di Jawa

Di seluruh dunia, revolusi hijau telah meningkatkan persediaan makanan dan mengurangi harga pangan.

Namun, penekanan pada modal depan dan pertanian teknologi dan kimia canggih memungkinkan para elit birokrasi dan ekonomi dari Jawa untuk memperkuat posisi mereka dengan mengorbankan petani miskin.


Analisis Ann Stoler tentang dampak revolusi hijau di Jawa menyarankan bahwa diferensial terpengaruh hal-hal seperti stratifikasi jender, tergantung pada kelas.

Keadilan 

Sebuah tujuan yang dinyatakan umum dari proyek pembangunan meningkat ekuitas yang berarti pengurangan kemiskinan dan lebih bahkan distribusi kekayaan. 


Tujuan ini sering digagalkan oleh elit lokal yang bertindak untuk mempertahankan atau meningkatkan posisi mereka.

Pembicaraan Kembali Dunia Ke Tiga

Antropolog Terapan telah dikritik karena etnosentrisme dalam pendekatan mereka sendiri untuk pembangunan (lihat referensi untuk Guillermo Batalla). 
- Terlalu banyak fokus pada beberapa dan mikro-penyebab sementara mengabaikan kesenjangan sosial yang besar. 
- Proyek awal yang terlalu berorientasi psikologis. 
- Terlalu banyak fokus pada difusi teknologi sebagai sumber utama perubahan. 


Kritikus lain telah menunjukkan hubungan antara antropolog dan instansi pemerintah tertentu.

Strategi untuk Inovasi 


Kottak menggambarkan analisis komparatif tentang enam puluh delapan proyek pembangunan, dimana ia menetapkan bahwa proyek-proyek pembangunan ekonomi yang sesuai budaya dua kali sukses finansial yang tidak kompatibel.

Overinnovation 

Overinnovation mengacu pada proyek-proyek pembangunan membutuhkan perubahan besar atas nama masyarakat sasaran.
- Proyek-proyek yang bersalah overinnovation umumnya tidak berhasil. 

- Untuk menghindari overinnovation, proyek-proyek pembangunan harus peka terhadap budaya tradisional dan keprihatinan dari kehidupan sehari-hari di masyarakat sasaran.

Underdifferentiation 

Underdifferentiation: kecenderungan untuk mengabaikan keragaman budaya dan melihat negara-negara berkembang sebagai sama. 

Banyak proyek pembangunan salah menganggap bahwa keluarga inti adalah unit dasar produksi dan lahan kepemilikan. 


Banyak proyek pembangunan juga salah menganggap bahwa koperasi berdasarkan model dari bekas blok Timur akan mudah dimasukkan oleh masyarakat pedesaan.

CULTURAL EXCHANGE AND SURVIVAL

Kontak dan Dominasi

Peningkatan kontak antara budaya telah menciptakan kemungkinan meningkat untuk dominasi satu kelompok dengan yang lain , melalui berbagai cara .

Pengembangan dan Environmentalisme

Saat ini , dominasi paling sering datang dalam bentuk perusahaan multinasional berbasis -core menyebabkan perubahan ekonomi dalam budaya Dunia Ketiga .

Perlu dicatat bahwa gangguan bahkan bermaksud baik ( seperti gerakan lingkungan ) dapat diperlakukan sebagai bentuk dominasi budaya dengan populasi subjek .

Dua sumber budaya bentrokan :
- Ketika pembangunan mengancam masyarakat adat dan lingkungan (misalnya , Brazil dan New Guinea ) .
- Ketika hubungan eksternal mengancam masyarakat adat ( misalnya , Madagaskar , di mana peraturan lingkungan internasional menyapu mempengaruhi lifeways subsisten tradisional ) .

Perubahan Agama

Indiana Jones adalah simbol dari dominasi barat semua aspek budaya berdasarkan efisiensi teknologi khusus .

Homogenisasi agama adalah teknik yang sering digunakan oleh negara-negara berusaha untuk menundukkan kelompok dicakup oleh perbatasan mereka .

Variasi dalam Sistem Dominasi

Scott ( 1990) membedakan antara transkrip publik dan tersembunyi dari masyarakat budaya dan politik tertindas .

Transkrip publik mengacu pada terbuka , interaksi antara masyarakat yang dominan dan yang tertindas .

Tersembunyi transkrip mengacu pada kritik terhadap kekuasaan yang terjadi di luar panggung , di mana dominators tidak bisa melihatnya .

Gramsci ( 1971) gagasan hegemoni berlaku untuk sistem politik hirarkis dimana dalam ideologi dominan dari elite telah diinternalisasi oleh anggota kelas bawah .

Bourdieu ( 1977) dan Foucault ( 1979) berpendapat bahwa itu jauh lebih mudah untuk mengontrol pikiran orang daripada mencoba untuk mengendalikan tubuh mereka .

Senjata dalam Seminggu

Sebagai James Scott (1990 ) bekerja pada petani Melayu menunjukkan , kelompok tertindas dapat menggunakan halus , metode non - konfrontatif untuk melawan berbagai bentuk dominasi .

Contoh wacana antihegemonic meliputi ritual ( misalnya , Carnaval ) dan sastra rakyat .

Resistance adalah lebih mungkin publik ketika tertindas datang bersama-sama dalam kelompok (maka undang-undang anti - perakitan sebelum perang Selatan ) .

Imperialisme budaya

Imperialisme budaya mengacu pada penyebaran satu budaya dengan mengorbankan orang lain biasanya karena pengaruh ekonomi atau politik diferensial .

Sementara media massa dan teknologi yang terkait telah berkontribusi terhadap erosi budaya lokal , mereka semakin sering digunakan sebagai media difusi luar budaya lokal (misalnya , televisi di Brasil ) .

Membuat dan Membentuk kembali Budaya

Sebuah teks didefinisikan sebagai sesuatu yang kreatif membaca , diinterpretasikan , dan ditugaskan makna oleh setiap orang yang menerimanya .

Pembaca teks semua berasal makna dan perasaan yang mungkin berbeda dari apa yang pencipta teks dimaksudkan mereka sendiri .

Pembacaan hegemonik mengacu pada membaca atau makna bahwa pencipta teks dimaksudkan .

Budaya Populer

Menurut Fiske ( 1989) , penggunaan masing-masing individu dari budaya populer adalah tindakan kreatif .

Budaya populer dapat digunakan untuk mengekspresikan perlawanan.

Indigenizing Budaya Populer

Menurut Fiske ( 1989) , penggunaan masing-masing individu dari budaya populer adalah tindakan kreatif .

Budaya populer dapat digunakan untuk mengekspresikan perlawanan.

Sistem World of Images

Media massa dapat menyebar dan menciptakan identitas nasional dan etnis .

Studi lintas budaya menunjukkan bahwa diproduksi secara lokal acara televisi yang lebih suka impor dari luar negeri .

Media massa memainkan peran penting dalam mempertahankan identitas etnis dan nasional di kalangan orang-orang yang menjalani kehidupan transnasional .

Culture transnasional

Seperti media massa , arus modal telah menjadi desentralisasi , membawa dengan itu pengaruh budaya dari berbagai sumber ( misalnya , Amerika Serikat , Jepang , Inggris, Kanada , Jerman , Belanda ) .

Buruh migran juga berkontribusi terhadap difusi budaya .

Postmodernisme

Postmodernitas menjelaskan waktu dan situasi - hari ini dunia dalam fluks , orang-orang ini pada langkah yang telah belajar untuk mengelola beberapa identitas tergantung pada tempat dan konteks .

Postmodern merujuk runtuh pembedaan tua , aturan , kanon , dan sejenisnya .

Postmodernisme ( berasal dari gaya arsitektur ) mengacu pernyataan teoritis dan penerimaan berbagai bentuk kebenaran , bertentangan dengan modernisme , yang berbasis di supremasi diasumsikan teknologi Barat dan nilai-nilai .

Globalisasi mengacu pada meningkatnya keterhubungan dunia dan rakyatnya .


Dengan keterhubungan ini , bagaimanapun, datang basis baru untuk identitas ( misalnya , identitas Panindian tumbuh di antara suku-suku yang berbeda sebelumnya ) .


referensi:
Slide Binus Maya Collonialism and Development, Cultural Exchange and Survival
http://definisimu.blogspot.com/2012/08/definisi-perkembangan.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Kolonialisme

Thursday, June 12, 2014

Pernikahan Beda Agama menurut Perspektif Sosiologi

Pengertian

Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial.

Agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, system budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/perintah dari kehidupan.

Perbedaan yaitu perihal yang berbeda; perihal yang membuat berbeda.

Agama menurut Perspektif Sosiologi

Konsep sosiologi agama, dalam pandangan sosiolog, agama diwujudkan dalam kehidupan masyarakat adalah fakta sosial. Sebagai fakta sosial, sosiolog agama dipelajari dengan menggunakan pendekatan ilmiah. Disiplin digunakan oleh sosiolog dalam studi masyarakat religius yang disebut sosiologi agama. Sosiologi agama adalah cabang ilmu yang otonom, muncul setelah abad ke-19. Pada prinsipnya, pengetahuan ini sama dengan sosiologi umum, sosiologi agama saat berbicara tentang salah satu aspek dari berbagai fenomena sosial, yaitu agama dalam perwujudan sosial. Sosiologi agama difokuskan terutama pada pemahaman arti yang diberikan oleh masyarakat kepada sistem keagamaan sendiri, dan berbagai hubungan antara agama dan struktur sosial lainnya, serta dengan berbagai aspek budaya bukan agama.

Sosiolog pandang agama agama sebagai arti luas dan universal, dari sudut pandang sosial dan bukan hanya berbicara tentang agama yang diperiksa oleh penganut agama tertentu, tetapi semua agama dan di semua wilayah di dunia tidak memihak dan memilah-milah. Studi mengangkat tidak diarahkan bagaimana orang yang religius, melainkan diarahkan untuk kehidupan keagamaan kolektif terutama difokuskan pada fungsi agama dalam mengembangkan atau menghambat kelangsungan hidup dan pemeliharaan kelompok masyarakat. Perhatiannya juga diarahkan pada agama sebagai salah satu aspek dari perilaku kelompok dan peran yang dimainkannya selama berabad-abad sampai sekarang.

PENDAPAT
Jadi menurut saya, pernikahan berbeda agama itu sah dan boleh akan tetapi tergantung juga dengan pandangan dari masing-masing orang apakah mereka mau menikah berbeda agama atau tidak. Akan tetapi di Indonesia banyak orang yang menikah berbeda agama dan itu legal dan sah apabila menikah secara benar. Menikah berbeda agama sangat tidak membatasi setiap orang untuk menikah, akan tetapi dari perbedaan itu mungkin saja akan memunculkan sesuatu yang lebih baik. Mungkin untuk beberapa orang menikah berbeda agama di anggap tidak baik karena akan merugikan kedua belah pihak, baik dari orang yang bersangkutan maupun keluarga atau karena mereka malu dengan pandangan orang lain di sekitarnya. Agama kita masing-masing juga telah menyebutkan "kasihilah sesamamu seperti kamu mengasihi dirimu" dari kata itu saja sudah sangat menunjukkan bahwa perbedaan agama tidak menghalangi kita untuk berinteraksi dengan orang lain, menjalin hubungan dengan orang lain yang berbeda agama, berbeda lingkungan sosialnya dan lainnya.


Perspektif dalam Sosiologi

Perspektif sosiologis adalah pola observasi sosiologi dalam mempelajari tentang kehidupan masyarakat dengan semua aspek kehidupan sosial atau proses di dalamnya.

1. Perspektif Evolusi

Evolusi itu sendiri didefinisikan sebagai perubahan sehingga jika dikaitkan dengan sosiologi yang berfokus pada pola-pola perubahan di masyarakat kehidupannya.Perpektif pandangan teoritis evolusi awal dalam sosiologi. Pandangan ini didasarkan pada karya Auguste Comte, Herbert Spencer, dan Ibnu Khaldun. Karakter ini terlihat pada pola perubahan dalam masyarakat. Mereka belajar dengan penekanan pada evolusi masyarakat.


Sampel Latar Belakang: Karena sistem yang mengatur kehidupan etik. Dan Individu tunduk pada sistem. Sistem ini datang melalui sebuah proses evolusi yang panjang dan saling ketergantungan antara bagian. Masyarakat juga berkembang dengan sendirinya terlepas dari kehendak dan kesadaran individu.


PENDAPAT
Pernikahan beda agama menurut perspektif evolusi, dari zaman ke zaman bahwa perubahan itu berfokus pada pola-pola perubahan di masyarakat. Yang berarti pada zaman dahulu pernikahan berbeda agama masih di tentang oleh berbagai pihak, dan seiring berjalannya waktu perubahan atau evolusi ini pun terjadi, berbagai pihak mulai mempertimbangkan dan menyetujui adanya pernikahan beda agama karena tidak merusak agama dari masing-masing pihak dan tidak menyeleweng dari agama mereka sehingga pada akhirnya pernikahan yang berbeda agama di anggap sah dan baik.

2. Perspektif interaksionis atau simbolik

Pandangan ini meneliti komunitas interaksi simbolik yang terjadi antara individu dan kelompok masyarakat. Orang-orang yang percaya pada interaksionis misalnya GH Mead dan CH Cooley. Mereka berpendapat bahwa interaksi manusia terjadi melalui serangkaian simbol yang meliputi gerakan, tulisan, ucapan, gerak tubuh, dan sebagainya. Pandangan ini lebih mengarah pada studi tentang individu atau kelompok kecil dalam masyarakat, bukan dalam kelompok besar atau lembaga sosial.

PENDAPAT
Pernikahan beda agama menurut perspektif interaksionis atau simbolik, jadi pernikahan beda agama itu memiliki makna tersendiri tergantung pada siapa atau bagaimana mereka memandang pernikahan beda agama itu sendiri. Apabila pernikahan beda agama dilakukan di desa yang masih memiliki kebudayaan yang sangat kuat sebagai contoh "suku Baduy", maka orang yang bersangkutan harus meninggalkan tempat itu dan tidak diperbolehkan tinggal disitu karena dianggap sudah menentang kebudayaan mereka. Berbeda lagi dengan di kota besar seperti contohnya "Jakarta", di Jakarta pernikahan beda agama sudah dianggap biasa dan tidak menentang kebudayaan yang ada. Maka dari itu dilihat dari bagaimana mereka memandang dan memaknainya.

3. Struktural Perspektif Fungsional

Dalam perspektif ini, masyarakat dianggap sebagai jaringan yang terorganisir, yang masing-masing memiliki fungsi. Pranata sosial dalam masyarkaat memiliki fungsi dan peran masing-masing yang saling mendukung. Masyarakat dianggap sebagai sistem yang stabil yang cenderung mengarah untuk mempertahankan sistem keseimbangan harmoni dan pandangan ini banyak intelektual memeluk Orde Baru mendukung kekuasaan pemerintah.

PENDAPAT
Pernikahan beda agama menurut perspektif fungsional, struktur tubuh manusia memiliki berbagai bagian yang saling berhubungan satu sama lain. Oleh karena itu, masyarakat memiliki kelembagaan yang saling terkait dan tergantung satu sama lain. Sama seperti halnya manusia dengan Tuhan, mereka saling terkait satu sama lain. Dalam agama mereka memang mempertahankan sistem keseimbangan harmoni, akan tetapi pernikahan juga merupakan berhubungan satu sama lain dan tergantung sama lain. Agama itu merupakan satu kesatuan, meskipun berbeda agama tetapi tujuan dan fungsi dari agama itu sama yaitu menyatukan satu sama lain untuk lebih dekat dengan Tuhan. Sehingga pernikahan beda agama itu menyatukan dua agama menjadi satu meskipun berbeda akan tetapi fungsi dan tujuan yang mereka inginkan itu sama yaitu dekat dengan Tuhan.

4. Perspektif Konflik
Pendekatan ini terutama didasarkan pada ide-ide Karl Marx. Teori konflik melihat orang-orang yang berada dalam konflik terus-menerus dalam kelompok atara atau kelas. Dalam pandangan teori konflik diakuasai masyarakat dengan beberapa kelompok atau orang-orang yang memiliki kekuatan dominan. Selain Marx dan Hegel tokoh lain dalam pendekatan konflik adalah Lews Coser.

PENDAPAT
Perang antar kelompok bisa disamakan dengan perjuangan untuk bertahan hidup dan terkuat yang menang dalam kehidupan sosial. Besar kebencian dan melekat antar kelompok, antar-ras dan antar-orang yang berbeda menyebabkan konflik yang tak terhindarkan. Pada zaman dulu pernikahan beda agama bisa akan menyebabkan perang antar kelompok, akan tetapi pemikiran orang akan terus berevolusi dan berkembang tidak hanya disitu saja, maka konflik ini makin lama akan semakin dipertimbangkan kembali kepentingannya dan tujuan dari konflik tersebut sehingga pemikiran orang mulai berubah, agama membantu mereka untuk bersatu, contohnya pernikahan yang berbeda agama, dengan salah satu contoh itu mereka menjadi mengesampingkan rasa kebencian satu sama lain yang sudah melekat antar kelompok, antar-ras, dan antar-orang yang berbeda.

Referensi: 

Thursday, June 5, 2014

Apa Kalian Yakin, Kalian Mengenal Kebudayaan di Indonesia?

Indonesia merupakan salah satu Negara yang kaya akan keaneka ragaman budayanya yang tersebar mulai dari Sabang sampai ke Merauke. Adanya keaneka ragaman budaya di Indonesia tidak terlepas dari banyaknya suku-suku yang menempati tanah nusantara ini, keberadaannya tidak bisa dihitung dengan jari bisa ratusan bahkan ribuan, dan salah satunya adalah suku Baduy.
Suku Baduy atau Orang Kanekes adalah suku asli masyarakat Banten. Komunitas suku ini tinggal di  Desa Kanekes. Mereka berada di wilayah Kecamatan Leuwidamar. Perkampungan mereka berada di sekitar aliran sungai Ciujung dan Cikanekes di Pegunungan Keundeng. Atau sekitar 172 km sebelah barat Ibukota Jakarta dan 65 km sebelah selatan ibu kota Serang.

Keberadaan mereka bisa dikatakan masih terisolasi dari masyarakat modern, tapi meskipun demikian mereka tidak menutup ruang untuk dapat dikunjungi oleh masyarakat moderen, sehingga berkunjung ke komunitas suku baduy pedalaman dijadikan salah satu objek wisata sekaligus penelitian sejarawan di daerah provinsi Banten.



Orang Kanekes atau orang Baduy/Badui adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayah Kabupaten LebakBanten. Populasi mereka sekitar 5.000 hingga 8.000 orang, dan mereka merupakan salah satu suku yang menerapkan isolasi dari dunia luar. Selain itu mereka juga memiliki keyakinan tabu untuk difoto, khususnya penduduk wilayah Baduy dalam.

Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti 
Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993).

Wilayah Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 6°27’27” – 6°30’0” LS dan 108°3’9” – 106°4’55” BT (Permana, 2001). Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Wilayah yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300 – 600 m di atas permukaan laut (DPL) tersebut mempunyai topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan). suhu rata-rata 20 °C.
Tiga desa utama orang Kanekes Dalam adalah Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo.

Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Sunda–Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Kanekes Dalam tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat-istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.
Orang Kanekes tidak mengenal sekolah, karena pendidikan formal berlawanan dengan adat-istiadat mereka. Mereka menolak usulan pemerintah untuk membangun fasilitas sekolah di desa-desa mereka. Bahkan hingga hari ini, walaupun sejak era Suharto pemerintah telah berusaha memaksa mereka untuk mengubah cara hidup mereka dan membangun fasilitas sekolah modern di wilayah mereka, orang Kanekes masih menolak usaha pemerintah tersebut. Akibatnya, mayoritas orang Kanekes tidak dapat membaca atau menulis.

Orang Kanekes memiliki hubungan sejarah dengan orang Sunda. Penampilan fisik dan bahasa mereka mirip dengan orang-orang Sunda pada umumnya. Satu-satunya perbedaan adalah kepercayaan dan cara hidup mereka. Orang Kanekes menutup diri dari pengaruh dunia luar dan secara ketat menjaga cara hidup mereka yang tradisional, sedangkan orang Sunda lebih terbuka kepada pengaruh asing dan mayoritas memeluk Islam.
Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtupanamping, dan dangka (Permana, 2001).
Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Kanekes Dalam (Baduy Dalam), yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Ciri khas Orang Kanekes Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala putih. Mereka dilarang secara adat untuk bertemu dengan orang asing.
Kanekes Dalam adalah bagian dari keseluruhan orang Kanekes. Tidak seperti Kanekes Luar, warga Kanekes Dalam masih memegang teguh adat-istiadat nenek moyang mereka.
Sebagian peraturan yang dianut oleh suku Kanekes Dalam antara lain:
·         Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi
·         Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki
·         Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Pu'un atau ketua adat)
·         Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi)
·         Menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern. Kelompok masyarakat kedua yang disebut panamping adalah mereka yang dikenal sebagai Kanekes Luar (Baduy Luar), yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Kanekes Dalam, seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Masyarakat Kanekes Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam.
Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Kanekes Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkannya warga Kanekes Dalam ke Kanekes Luar:
·         Mereka telah melanggar adat masyarakat Kanekes Dalam.
·         Berkeinginan untuk keluar dari Kanekes Dalam
·         Menikah dengan anggota Kanekes Luar
Ciri-ciri masyarakat orang Kanekes Luar
·         Mereka telah mengenal teknologi, seperti peralatan elektronik.
·         Proses pembangunan rumah penduduk Kanekes Luar telah menggunakan alat-alat bantu, seperti gergaji, palu, paku, dll, yang sebelumnya dilarang oleh adat Kanekes Dalam.
·         Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua (untuk laki-laki), yang menandakan bahwa mereka tidak suci. Kadang menggunakan pakaian modern seperti kaos oblong dan celana jeans.
·         Menggunakan peralatan rumah tangga modern, seperti kasur, bantal, piring & gelas kaca & plastik.
·         Mereka tinggal di luar wilayah Kanekes Dalam.
·         Sebagian di antara mereka telah terpengaruh dan berpindah agama menjadi seorang muslim dalam jumlah cukup signifikan.
Apabila Kanekes Dalam dan Kanekes Luar tinggal di wilayah Kanekes, maka "Kanekes Dangka" tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam). Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh dari luar (Permana, 2001).

Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes mempunyai tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.
Pendapat mengenai asal usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai 'Tatar Sunda' yang cukup minim keberadaannya. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung barat pulau Jawa ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umum menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Kanekes sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.
Van Tricht, seorang dokter yang pernah melakukan riset kesehatan pada tahun 1928, menyangkal teori tersebut. Menurut dia, orang Kanekes adalah penduduk asli daerah tersebut yang mempunyai daya tolak kuat terhadap pengaruh luar (Garna, 1993b: 146). Orang Kanekes sendiri pun menolak jika dikatakan bahwa mereka berasal dari orang-orang pelarian dari Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda. Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Baduy merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala' (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena penduduknya berkewajiban memelihara kabuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang), bukan agama Hindu atau Budha. Kebuyutan di daerah ini dikenal dengan kabuyutan Jati Sunda atau 'Sunda Asli' atau Sunda Wiwitan (wiwitan=asli, asal, pokok, jati). Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama Sunda Wiwitan. Raja yang menjadikan wilayah Baduy sebagai mandala adalah Rakeyan Darmasiksa.

Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Buddha, Hindu. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari 'pikukuh' (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep "tanpa perubahan apa pun", atau perubahan sesedikit mungkin:
Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung.
(Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung)
Tabu tersebut dalam kehidupan sehari-hari diinterpretasikan secara harafiah. Di bidang pertanian, bentuk pikukuh tersebut adalah dengan tidak mengubah kontur lahan bagi ladang, sehingga cara berladangnya sangat sederhana, tidak mengolah lahan dengan bajak, tidak membuat terasering, hanya menanam dengan tugal, yaitu sepotong bambu yang diruncingkan. Pada pembangunan rumah juga kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya, sehingga tiang penyangga rumah Kanekes seringkali tidak sama panjang. Perkataan dan tindakan mereka pun jujur, polos, tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar.
Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima, yang pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. Hanya Pu'un atau ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen (Permana, 2003a).
Bagi sebagian kalangan, berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya, kepercayaan yang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya Islam.

Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional, yang mengikuti aturan negara Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang dipercaya masyarakat. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian rupa sehingga tidak terjadi benturan. Secara nasional, penduduk Kanekes dipimpin oleh kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah camat, sedangkan secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu "Pu'un".
Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah "Pu'un" yang ada di tiga kampung tangtu. Jabatan tersebut berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis dari bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya. Jangka waktu jabatan Pu'un tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut.

Sebagaimana yang telah terjadi selama ratusan tahun, maka mata pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma. Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan.

Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat-istiadat bukan merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari perkembangan dunia luar. Berdirinya Kesultanan Banten yang secara otomatis memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran mereka. Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba ke Kesultanan Banten (Garna, 1993). Sampai sekarang, upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya ke Gubernur Jawa Barat), melalui bupati Kabupaten Lebak. Di bidang pertanian, penduduk Kanekes Luar berinteraksi erat dengan masyarakat luar, misalnya dalam sewa-menyewa tanah, dan tenaga buruh.
Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara barter, sekarang ini telah mempergunakan mata uang rupiah biasa. Orang Kanekes menjual hasil buah-buahan, madu, dan gula kawung/aren melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.
Pada saat ini orang luar yang mengunjungi wilayah Kanekes semakin meningkat sampai dengan ratusan orang per kali kunjungan, biasanya merupakan remaja dari sekolah, mahasiswa, dan juga para pengunjung dewasa lainnya. Mereka menerima para pengunjung tersebut, bahkan untuk menginap satu malam, dengan ketentuan bahwa pengunjung menuruti adat-istiadat yang berlaku di sana. Aturan adat tersebut antara lain tidak boleh berfoto di wilayah Kanekes Dalam, tidak menggunakan sabun atau odol di sungai. Namun demikian, wilayah Kanekes tetap terlarang bagi orang asing (non-WNI). Beberapa wartawan asing yang mencoba masuk sampai sekarang selalu ditolak masuk.
Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, orang Kanekes juga senang berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan syarat harus berjalan kaki. Pada umumnya mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Kanekes sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.


SUMBER:
* Adimihardja, K. (2000). Orang Baduy di Banten Selatan: Manusia air pemelihara sungai, Jurnal Antropologi Indonesia, Th. XXIV, No. 61, Jan-Apr 2000, hal 47 – 59.
* Garna, Y. (1993). Masyarakat Baduy di Banten, dalam Masyarakat Terasing di Indonesia, Editor: Koentjaraningrat & Simorangkir, Seri Etnografi Indonesia No.4. Jakarta: Departemen Sosial dan Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial dengan Gramedia Pustaka Utama.
* Iskandar, J. (1991). An evaluation of the shifting cultivation systems of the Baduy society in West Java using system modelling, Thesis Abstract of AGS Students, [http://216.239.33.104/search?q=cache:imZECmAZwHwJ:mccweb.agri.cmu.ac.th/gra].
* Makmur, A. (2001). Pamarentahan Baduy di Desa Kanekes: Perspektif kekerabatan, [http://www.geocities.com/puslitmasbud_unpad/ARTIKEL_PAMARENTAHAN_BADUY.htm].
* Nugraheni, E. & Winata, A. (2003). Konservasi lingkungan dan plasma Nutfah menurut kearifan tradisional masyarakat kasepuhan Gunung Halimun, Jurnal Studi Indonesia, Volume 13, Nomor 2, September 2003, halaman 126-143.
* Permana, C.E. (2001). Kesetaraan gender dalam adat inti jagat Baduy, Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
* Permana, C.E. (2003). Arca Domas Baduy: Sebuah referensi arkeologi dalam penafsiran ruang masyarakat megalitik, Indonesian Arheology on the Net, [http://www.arkeologi.net/index1.php?id=view_news&ct_news=238]
* Permana, C.E. (2003). Religi dalam tradisi bercocok tanam sederhana, Indonesian Arheology on the Net, [http://www.arkeologi.net/index1.php?id=view_news&ct_news=45]
* Ascher, Robert, 1971 Analogy in Archaeological Interpretation, dalam James Deetz (ed.) Mans Imprint from the Past. Boston: Little Brown. Hal: 262271.
* Danasasmita, Saleh dan Anis Djatisunda,., 1986 Kehidupan Masyarakat Kanekes. Bandung: Sundanologi.
* Ekadjati, Edi S., 1995 Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarah). Jakarta: Pustaka Jaya.
* Garna, Judhistira, 1988 Perubahan Sosial Budaya Baduy dalam Nurhadi Rangkuti (Peny.). Orang Baduy dari Inti Jagat. Bentara Budaya, KOMPAS, Yogyakarta: Etnodata Prosindo.
* 1993 Masyarakat Baduy di Banten, dalam Koentjaraningrat (ed.) Masyarakat Terasing di Indonesia. Jakarta: Gramedia . Hal. 120-152)
* Hoevell, W.R. van, 1845 Bijdrage tot de kennis der Badoeinen in het zuiden der residentie Bantam. TNI, VII: 335-430.
* Iskandar, Johan, 1992 Ekologi Perladangan di Indonesia: Studi Kasus dari Daerah Baduy, Banten Selatan, Jawa Barat. Jakarta: Djambatan.
* Jacobs, J. and J.J. Meijer, 1891 De Badoejs. s-Grahenhage: Martinus Nijhoff.
* Koorders, D., 1869 Losse Aantekeningeng tijdens het bezoek bij de Badois, BKI, LVI: 335-341.
* Kramer, C., 1979 Etnoarchaeology: Implication of Ethnography for Archaeology. New York: Columbia University Press.
* Mundardjito., 1981 Etnoarkeologi: Peranannya dalam Pengembangan Arkeologi di Indonesia, dalam Majalah Arkeologi 1-2, IV:17-29
* Permana, R. Cecep Eka, 1996 Tata Ruang Masyarakat Baduy. Tesis Antropologi Program Pascasarjana Universitas Indonesia.


Wednesday, June 4, 2014

Collective Behavior and Social Movements

Teori Perilaku Kolektif

Perilaku kolektif : " Perilaku yang relatif spontan dan tidak terstruktur dari sekelompok orang yang bereaksi terhadap pengaruh umum dalam situasi ambigu " ( Smelser )

Emergent - Norm Perspektif

Muncul perspektif norma : Selama episode perilaku kolektif , definisi perilaku apa yang tepat atau tidak muncul dari kerumunan .

Mencerminkan keyakinan bersama dipegang oleh anggota kelompok .

Value-Added Perspektif

Model nilai tambah : menjelaskan seberapa luas kondisi sosial yang berubah dalam pola tertentu ke dalam beberapa bentuk perilaku kolektif
- Kondusifitas Struktural
- Regangan Struktural
- Generalized keyakinan
- Faktor pencetus
- Mobilisasi tindakan
- Latihan kontrol sosial

Perakitan Perspektif

Perspektif Perakitan : meneliti bagaimana dan mengapa orang bergerak dari titik yang berbeda dalam ruang untuk lokasi umum:
- Rakitan periodik : berulang , pertemuan yang relatif rutin seperti kelompok kerja , kelas kuliah , acara olahraga 
- Rakitan Nonperiodik : meliputi demonstrasi , parade , dan pertemuan di acara-acara seperti kebakaran dan penangkapan

Massa

Massa : Pengelompokan sementara orang di dekat yang berbagi fokus umum atau kepentingan
- Tidak benar-benar kurang dalam struktur
- Bahkan selama kerusuhan , peserta diatur oleh norma-norma sosial diidentifikasi dan menunjukkan pola-pola tertentu perilaku
- Perspektif Emergent - norma menunjukkan bahwa norma sosial baru diterima
- Diambil makna baru dengan Internet

Perilaku bencana

Bencana : Tiba-tiba atau mengganggu kejadian atau peristiwa yang overtaxes sumber daya masyarakat yang membutuhkan bantuan dari luar

Penelitian bencana
- Bencana Research Center di University of Delaware

Studi Kasus : Keruntuhan World Trade Center dan Badai Katrina
- Dicirikan banyak keunggulan dari pemulihan bencana
- Bahkan dalam setelah tak terbayangkan bencana , orang dan organisasi merespon dengan cara yang dapat diprediksi

Mode dan Fashions

Mode : pola sementara perilaku yang melibatkan sejumlah besar orang

Fashions : Massa menyenangkan keterlibatan yang menampilkan penerimaan oleh masyarakat dan kontinuitas sejarah

Panik dan kegilaan

Craze : keterlibatan massa yang menarik yang berlangsung selama jangka waktu yang relatif lama

Panic : gairah takut atau kolektif penerbangan didasarkan pada keyakinan umum yang mungkin atau mungkin tidak akurat 

Rumor

Rumor : Sepotong informasi yang dikumpulkan secara informal digunakan untuk menafsirkan situasi ambigu
- Menyediakan kelompok dengan keyakinan bersama
- Sarana beradaptasi dengan perubahan
- Memperkuat ideologi masyarakat dan kecurigaan media massa

Publik dan Opini Publik

Public : kelompok tersebar orang , belum tentu berhubungan dengan satu sama lain , yang berbagi minat dalam masalah

Opini publik : ekspresi sikap mengenai masalah-masalah kebijakan publik yang dikomunikasikan kepada para pengambil keputusan

Gerakan Sosial

Gerakan sosial : menyelenggarakan kegiatan kolektif untuk membawa atau menolak perubahan dalam kelompok atau masyarakat
- Gerakan-gerakan sosial memiliki dramatis berdampak pada perjalanan sejarah dan evolusi struktur sosial
- Fungsionalis : berkontribusi pada pembentukan opini publik semakin mengambil dimensi internasional

Perampasan Pendekatan Relatif 

Kekurangan relatif: perasaan sadar negatif perbedaan antara harapan yang sah dan aktualitas hadir

Sebelum ketidakpuasan disalurkan menjadi gerakan sosial, orang harus merasa mereka: 
- Memiliki hak untuk tujuan mereka 
- Menganggap mereka tidak bisa mencapai tujuan melalui cara konvensional 

Mobilisasi Sumber Daya 

Mobilisasi sumberdaya: Cara gerakan sosial seperti memanfaatkan sumber daya sebagai uang, pengaruh politik, akses ke media, dan pekerja 
- Oberschall: untuk mempertahankan sebuah gerakan sosial, harus ada organisasi dasar dan kontinuitas kepemimpinan
- Marx: pemimpin perlu membantu para pekerja mengatasi kesadaran palsu - sikap yang tidak mencerminkan posisi obyektif pekerja 

Gender dan Gerakan Sosial 

Wanita merasa lebih sulit daripada laki-laki untuk menganggap posisi kepemimpinan dalam organisasi gerakan sosial 


Gender dapat mempengaruhi cara kita melihat upaya terorganisir untuk membawa tentang atau menolak perubahan 

Gerakan Sosial Baru

Gerakan sosial baru : kegiatan kolektif terorganisir yang mempromosikan otonomi , penentuan nasib sendiri , dan peningkatan kualitas hidup
- Gerakan sosial baru umumnya tidak melihat pemerintah sebagai sekutu mereka

Komunikasi dan Globalisasi Perilaku Kolektif

Global -pesan teks dan internet memungkinkan aktivis sosial untuk mencapai orang-orang seketika

Listserves Internet dan chatroom memungkinkan penyelenggara gerakan sosial untuk meminta orang yang berpikiran tanpa kontak face-to - face

Televisi dan internet dapat menyampaikan rasa palsu keintiman diperkuat dengan kedekatan

Computer- Mediated Communication ( CMC )

Hak Penyandang Disabilitas

Melihat Isu
- Upaya untuk memastikan kesehatan dan hak-hak penyandang cacat telah berkembang sejak awal 1960-an
- Gaib banyak cacat kendala

Menerapkan Sosiologi
- Perspektif Pelabelan : ADA suatu framing signifikan dari masalah hak penyandang cacat
- Teori Konflik : ADA adalah bagian dari 40 tahun gerakan hak-hak sipil
- Interactionists : fokus pada hubungan sehari-hari orang-orang dengan dan tanpa cacat

Memulai Kebijakan
- Grup merasa badan-badan federal yang terlalu berhati-hati dalam menegakkan ADA

- Aktivis hak Cacat mempertanyakan visitability - aksesibilitas rumah-rumah pribadi untuk pengunjung penyandang cacat

referensi: Slide Binus Maya Collective Behavior and Social Movements

Collonialism and Development, Cultural Exchange and Survival

COLONIALISM AND DEVELOPMENT

Kolonialisme

Kolonialisme : pengembangan kekuasaan sebuah negara atas wilayah dan manusia di luar batas negaranya, seringkali untuk mencari dominasi ekonomi dari sumber daya, tenaga kerja, dan pasar wilayah tersebut.

Istilah ini juga menunjuk kepada suatu himpunan keyakinan yang digunakan untuk melegitimasikan atau mempromosikan sistem ini, terutama kepercayaan bahwamoral dari pengkoloni lebih hebat ketimbang yang dikolonikan.

Imperialisme 

Imperialisme mengacu pada kebijakan memperluas kekuasaan suatu bangsa atau kerajaan atas bangsa-bangsa asing dan mengambil dan menahan koloni asing 


Kolonialisme mengacu pada dominasi politik, sosial, ekonomi, dan budaya suatu wilayah dan rakyatnya oleh kekuatan asing untuk jangka waktu.

Kolonialisme Inggris 

Pencarian untuk sumber daya dan pasar baru untuk meningkatkan keuntungan memicu kolonialisme Inggris.

Tahap pertama dari kolonialisme Inggris terkonsentrasi di New World, barat Afrika, dan India dan datang ke dekat dengan Revolusi Amerika. 

Selama periode kedua kolonialisme, Inggris akhirnya menguasai sebagian besar India, Australia, Selandia Baru, Kanada, dan sebagian besar dari Afrika timur dan selatan. 

Upaya kolonial Inggris dibenarkan oleh apa Kipling disebut "beban orang kulit putih" yang menegaskan bahwa penduduk asli tidak mampu mengatur diri mereka sendiri dan membutuhkan putih, kolonialis Inggris menyediakan dan menjaga ketertiban.


Kolonialisme Perancis 

Kolonialisme Prancis lebih disebabkan oleh negara, gereja, dan militer, bukan oleh kepentingan bisnis. 

Tahap pertama dari upaya kolonial Perancis difokuskan di Kanada, Wilayah Louisiana, Karibia, dan Afrika Barat. 

Selama fase kedua kolonialisme Perancis (1870 Perang Dunia II), kekaisaran tumbuh dengan menyertakan sebagian besar Afrika utara dan Indochina. 


Legitimasi ideologis untuk kolonialisme Prancis adalah civilisatrice misi (mirip dengan "beban orang kulit putih"); untuk menyebarkan budaya Prancis, bahasa, dan agama di seluruh koloni.


The French menggunakan dua bentuk pemerintahan kolonial:
- Pemerintahan tidak langsung mengacu pada praktek Perancis memerintah melalui struktur politik pribumi dan pemimpin. 

- Pemerintahan langsung mengacu pada praktek Perancis memaksakan pemerintahan baru pada penduduk asli.


Kolonialisme dan Identitas 

Perbedaan etnis dan politik di seluruh dunia sangat terganggu oleh kolonialisme.

Sebagai contoh, banyak dari batas-batas politik modern di barat Afrika didasarkan pada linguistik, politik, dan ekonomi kontras yang merupakan hasil dari kebijakan kolonial Eropa di wilayah tersebut. 

Studi Postkolonial 

Kajian postkolonial mengacu pada penelitian yang menargetkan interaksi antara negara-negara Eropa dan masyarakat yang mereka dijajah. 

Istilah ini juga digunakan untuk merujuk pada paruh kedua abad ke-20. 

Istilah ini juga dapat digunakan untuk menandakan posisi melawan imperialisme dan Eurosentrisme.


The postcolonies dapat dibagi menjadi pemukim, nonsettler, dan dicampur: 
- Postcolonies Settler meliputi negara-negara yang didominasi oleh pemukim Eropa dengan penduduk asli hanya jarang (misalnya, Australia) 
- Postcolonies Nonsettler ditandai dengan penduduk asli yang besar dan hanya sejumlah kecil orang Eropa (misalnya, India). 
- Postcolonies Campuran mengacu pada negara-negara dengan baik penduduk asli dan Eropa yang cukup besar (misalnya, Afrika Selatan dan Kenya)

Perkembangan: Filosofi 

Perkembangan (Development) merupakan suatu proses yang pasti di alami oleh setiap individu, perkembangan ini adalah proses yang bersifat kualitatif dan berhubungan dengan kematangan seorang individu yang ditinjau dari perubahan yang bersifat progresif serta sistematis di dalam diri manusia.

Sebuah filosofi intervensi adalah pembenaran ideologis untuk campur tangan dalam kehidupan penduduk asli, didasarkan pada asumsi bahwa seseorang memiliki cara yang unggul hidup atau berpikir. 

Pembangunan ekonomi rencana-industrialisasi, modernisasi, westernisasi, dan individualisme adalah kemajuan evolusi diinginkan yang akan membawa manfaat jangka panjang kepada penduduk setempat.

Perkembangan: Masalah 

Masalah Terkait dengan Intervensi dan Pengembangan Sempit Fokus:
- Situasi dianggap sebagai masalah yang dihasilkan dari gaya hidup pribumi mungkin sebenarnya akibat dari dampak sistem dunia pada gaya hidup itu. 
- Efek sistemik proyek pembangunan sebenarnya bisa berbahaya (misalnya, pajak, dan kenaikan sewa dalam menanggapi mengangkat pendapatan). 

- Ahli difokuskan secara sempit tidak mungkin untuk menyadari implikasi spektrum yang luas dari skema pembangunan.

Penghijauan di Jawa

Di seluruh dunia, revolusi hijau telah meningkatkan persediaan makanan dan mengurangi harga pangan.

Namun, penekanan pada modal depan dan pertanian teknologi dan kimia canggih memungkinkan para elit birokrasi dan ekonomi dari Jawa untuk memperkuat posisi mereka dengan mengorbankan petani miskin.


Analisis Ann Stoler tentang dampak revolusi hijau di Jawa menyarankan bahwa diferensial terpengaruh hal-hal seperti stratifikasi jender, tergantung pada kelas.

Keadilan 

Sebuah tujuan yang dinyatakan umum dari proyek pembangunan meningkat ekuitas yang berarti pengurangan kemiskinan dan lebih bahkan distribusi kekayaan. 


Tujuan ini sering digagalkan oleh elit lokal yang bertindak untuk mempertahankan atau meningkatkan posisi mereka.

Pembicaraan Kembali Dunia Ke Tiga

Antropolog Terapan telah dikritik karena etnosentrisme dalam pendekatan mereka sendiri untuk pembangunan (lihat referensi untuk Guillermo Batalla). 
- Terlalu banyak fokus pada beberapa dan mikro-penyebab sementara mengabaikan kesenjangan sosial yang besar. 
- Proyek awal yang terlalu berorientasi psikologis. 
- Terlalu banyak fokus pada difusi teknologi sebagai sumber utama perubahan. 


Kritikus lain telah menunjukkan hubungan antara antropolog dan instansi pemerintah tertentu.

Strategi untuk Inovasi 


Kottak menggambarkan analisis komparatif tentang enam puluh delapan proyek pembangunan, dimana ia menetapkan bahwa proyek-proyek pembangunan ekonomi yang sesuai budaya dua kali sukses finansial yang tidak kompatibel.

Overinnovation 

Overinnovation mengacu pada proyek-proyek pembangunan membutuhkan perubahan besar atas nama masyarakat sasaran.
- Proyek-proyek yang bersalah overinnovation umumnya tidak berhasil. 

- Untuk menghindari overinnovation, proyek-proyek pembangunan harus peka terhadap budaya tradisional dan keprihatinan dari kehidupan sehari-hari di masyarakat sasaran.

Underdifferentiation 

Underdifferentiation: kecenderungan untuk mengabaikan keragaman budaya dan melihat negara-negara berkembang sebagai sama. 

Banyak proyek pembangunan salah menganggap bahwa keluarga inti adalah unit dasar produksi dan lahan kepemilikan. 


Banyak proyek pembangunan juga salah menganggap bahwa koperasi berdasarkan model dari bekas blok Timur akan mudah dimasukkan oleh masyarakat pedesaan.

CULTURAL EXCHANGE AND SURVIVAL

Kontak dan Dominasi

Peningkatan kontak antara budaya telah menciptakan kemungkinan meningkat untuk dominasi satu kelompok dengan yang lain , melalui berbagai cara .

Pengembangan dan Environmentalisme

Saat ini , dominasi paling sering datang dalam bentuk perusahaan multinasional berbasis -core menyebabkan perubahan ekonomi dalam budaya Dunia Ketiga .

Perlu dicatat bahwa gangguan bahkan bermaksud baik ( seperti gerakan lingkungan ) dapat diperlakukan sebagai bentuk dominasi budaya dengan populasi subjek .

Dua sumber budaya bentrokan :
- Ketika pembangunan mengancam masyarakat adat dan lingkungan (misalnya , Brazil dan New Guinea ) .
- Ketika hubungan eksternal mengancam masyarakat adat ( misalnya , Madagaskar , di mana peraturan lingkungan internasional menyapu mempengaruhi lifeways subsisten tradisional ) .

Perubahan Agama

Indiana Jones adalah simbol dari dominasi barat semua aspek budaya berdasarkan efisiensi teknologi khusus .

Homogenisasi agama adalah teknik yang sering digunakan oleh negara-negara berusaha untuk menundukkan kelompok dicakup oleh perbatasan mereka .

Variasi dalam Sistem Dominasi

Scott ( 1990) membedakan antara transkrip publik dan tersembunyi dari masyarakat budaya dan politik tertindas .

Transkrip publik mengacu pada terbuka , interaksi antara masyarakat yang dominan dan yang tertindas .

Tersembunyi transkrip mengacu pada kritik terhadap kekuasaan yang terjadi di luar panggung , di mana dominators tidak bisa melihatnya .

Gramsci ( 1971) gagasan hegemoni berlaku untuk sistem politik hirarkis dimana dalam ideologi dominan dari elite telah diinternalisasi oleh anggota kelas bawah .

Bourdieu ( 1977) dan Foucault ( 1979) berpendapat bahwa itu jauh lebih mudah untuk mengontrol pikiran orang daripada mencoba untuk mengendalikan tubuh mereka .

Senjata dalam Seminggu

Sebagai James Scott (1990 ) bekerja pada petani Melayu menunjukkan , kelompok tertindas dapat menggunakan halus , metode non - konfrontatif untuk melawan berbagai bentuk dominasi .

Contoh wacana antihegemonic meliputi ritual ( misalnya , Carnaval ) dan sastra rakyat .

Resistance adalah lebih mungkin publik ketika tertindas datang bersama-sama dalam kelompok (maka undang-undang anti - perakitan sebelum perang Selatan ) .

Imperialisme budaya

Imperialisme budaya mengacu pada penyebaran satu budaya dengan mengorbankan orang lain biasanya karena pengaruh ekonomi atau politik diferensial .

Sementara media massa dan teknologi yang terkait telah berkontribusi terhadap erosi budaya lokal , mereka semakin sering digunakan sebagai media difusi luar budaya lokal (misalnya , televisi di Brasil ) .

Membuat dan Membentuk kembali Budaya

Sebuah teks didefinisikan sebagai sesuatu yang kreatif membaca , diinterpretasikan , dan ditugaskan makna oleh setiap orang yang menerimanya .

Pembaca teks semua berasal makna dan perasaan yang mungkin berbeda dari apa yang pencipta teks dimaksudkan mereka sendiri .

Pembacaan hegemonik mengacu pada membaca atau makna bahwa pencipta teks dimaksudkan .

Budaya Populer

Menurut Fiske ( 1989) , penggunaan masing-masing individu dari budaya populer adalah tindakan kreatif .

Budaya populer dapat digunakan untuk mengekspresikan perlawanan.

Indigenizing Budaya Populer

Menurut Fiske ( 1989) , penggunaan masing-masing individu dari budaya populer adalah tindakan kreatif .

Budaya populer dapat digunakan untuk mengekspresikan perlawanan.

Sistem World of Images

Media massa dapat menyebar dan menciptakan identitas nasional dan etnis .

Studi lintas budaya menunjukkan bahwa diproduksi secara lokal acara televisi yang lebih suka impor dari luar negeri .

Media massa memainkan peran penting dalam mempertahankan identitas etnis dan nasional di kalangan orang-orang yang menjalani kehidupan transnasional .

Culture transnasional

Seperti media massa , arus modal telah menjadi desentralisasi , membawa dengan itu pengaruh budaya dari berbagai sumber ( misalnya , Amerika Serikat , Jepang , Inggris, Kanada , Jerman , Belanda ) .

Buruh migran juga berkontribusi terhadap difusi budaya .

Postmodernisme

Postmodernitas menjelaskan waktu dan situasi - hari ini dunia dalam fluks , orang-orang ini pada langkah yang telah belajar untuk mengelola beberapa identitas tergantung pada tempat dan konteks .

Postmodern merujuk runtuh pembedaan tua , aturan , kanon , dan sejenisnya .

Postmodernisme ( berasal dari gaya arsitektur ) mengacu pernyataan teoritis dan penerimaan berbagai bentuk kebenaran , bertentangan dengan modernisme , yang berbasis di supremasi diasumsikan teknologi Barat dan nilai-nilai .

Globalisasi mengacu pada meningkatnya keterhubungan dunia dan rakyatnya .


Dengan keterhubungan ini , bagaimanapun, datang basis baru untuk identitas ( misalnya , identitas Panindian tumbuh di antara suku-suku yang berbeda sebelumnya ) .


referensi:
Slide Binus Maya Collonialism and Development, Cultural Exchange and Survival
http://definisimu.blogspot.com/2012/08/definisi-perkembangan.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Kolonialisme