Thursday, June 12, 2014

Pernikahan Beda Agama menurut Perspektif Sosiologi

Pengertian

Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial.

Agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, system budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/perintah dari kehidupan.

Perbedaan yaitu perihal yang berbeda; perihal yang membuat berbeda.

Agama menurut Perspektif Sosiologi

Konsep sosiologi agama, dalam pandangan sosiolog, agama diwujudkan dalam kehidupan masyarakat adalah fakta sosial. Sebagai fakta sosial, sosiolog agama dipelajari dengan menggunakan pendekatan ilmiah. Disiplin digunakan oleh sosiolog dalam studi masyarakat religius yang disebut sosiologi agama. Sosiologi agama adalah cabang ilmu yang otonom, muncul setelah abad ke-19. Pada prinsipnya, pengetahuan ini sama dengan sosiologi umum, sosiologi agama saat berbicara tentang salah satu aspek dari berbagai fenomena sosial, yaitu agama dalam perwujudan sosial. Sosiologi agama difokuskan terutama pada pemahaman arti yang diberikan oleh masyarakat kepada sistem keagamaan sendiri, dan berbagai hubungan antara agama dan struktur sosial lainnya, serta dengan berbagai aspek budaya bukan agama.

Sosiolog pandang agama agama sebagai arti luas dan universal, dari sudut pandang sosial dan bukan hanya berbicara tentang agama yang diperiksa oleh penganut agama tertentu, tetapi semua agama dan di semua wilayah di dunia tidak memihak dan memilah-milah. Studi mengangkat tidak diarahkan bagaimana orang yang religius, melainkan diarahkan untuk kehidupan keagamaan kolektif terutama difokuskan pada fungsi agama dalam mengembangkan atau menghambat kelangsungan hidup dan pemeliharaan kelompok masyarakat. Perhatiannya juga diarahkan pada agama sebagai salah satu aspek dari perilaku kelompok dan peran yang dimainkannya selama berabad-abad sampai sekarang.

PENDAPAT
Jadi menurut saya, pernikahan berbeda agama itu sah dan boleh akan tetapi tergantung juga dengan pandangan dari masing-masing orang apakah mereka mau menikah berbeda agama atau tidak. Akan tetapi di Indonesia banyak orang yang menikah berbeda agama dan itu legal dan sah apabila menikah secara benar. Menikah berbeda agama sangat tidak membatasi setiap orang untuk menikah, akan tetapi dari perbedaan itu mungkin saja akan memunculkan sesuatu yang lebih baik. Mungkin untuk beberapa orang menikah berbeda agama di anggap tidak baik karena akan merugikan kedua belah pihak, baik dari orang yang bersangkutan maupun keluarga atau karena mereka malu dengan pandangan orang lain di sekitarnya. Agama kita masing-masing juga telah menyebutkan "kasihilah sesamamu seperti kamu mengasihi dirimu" dari kata itu saja sudah sangat menunjukkan bahwa perbedaan agama tidak menghalangi kita untuk berinteraksi dengan orang lain, menjalin hubungan dengan orang lain yang berbeda agama, berbeda lingkungan sosialnya dan lainnya.


Perspektif dalam Sosiologi

Perspektif sosiologis adalah pola observasi sosiologi dalam mempelajari tentang kehidupan masyarakat dengan semua aspek kehidupan sosial atau proses di dalamnya.

1. Perspektif Evolusi

Evolusi itu sendiri didefinisikan sebagai perubahan sehingga jika dikaitkan dengan sosiologi yang berfokus pada pola-pola perubahan di masyarakat kehidupannya.Perpektif pandangan teoritis evolusi awal dalam sosiologi. Pandangan ini didasarkan pada karya Auguste Comte, Herbert Spencer, dan Ibnu Khaldun. Karakter ini terlihat pada pola perubahan dalam masyarakat. Mereka belajar dengan penekanan pada evolusi masyarakat.


Sampel Latar Belakang: Karena sistem yang mengatur kehidupan etik. Dan Individu tunduk pada sistem. Sistem ini datang melalui sebuah proses evolusi yang panjang dan saling ketergantungan antara bagian. Masyarakat juga berkembang dengan sendirinya terlepas dari kehendak dan kesadaran individu.


PENDAPAT
Pernikahan beda agama menurut perspektif evolusi, dari zaman ke zaman bahwa perubahan itu berfokus pada pola-pola perubahan di masyarakat. Yang berarti pada zaman dahulu pernikahan berbeda agama masih di tentang oleh berbagai pihak, dan seiring berjalannya waktu perubahan atau evolusi ini pun terjadi, berbagai pihak mulai mempertimbangkan dan menyetujui adanya pernikahan beda agama karena tidak merusak agama dari masing-masing pihak dan tidak menyeleweng dari agama mereka sehingga pada akhirnya pernikahan yang berbeda agama di anggap sah dan baik.

2. Perspektif interaksionis atau simbolik

Pandangan ini meneliti komunitas interaksi simbolik yang terjadi antara individu dan kelompok masyarakat. Orang-orang yang percaya pada interaksionis misalnya GH Mead dan CH Cooley. Mereka berpendapat bahwa interaksi manusia terjadi melalui serangkaian simbol yang meliputi gerakan, tulisan, ucapan, gerak tubuh, dan sebagainya. Pandangan ini lebih mengarah pada studi tentang individu atau kelompok kecil dalam masyarakat, bukan dalam kelompok besar atau lembaga sosial.

PENDAPAT
Pernikahan beda agama menurut perspektif interaksionis atau simbolik, jadi pernikahan beda agama itu memiliki makna tersendiri tergantung pada siapa atau bagaimana mereka memandang pernikahan beda agama itu sendiri. Apabila pernikahan beda agama dilakukan di desa yang masih memiliki kebudayaan yang sangat kuat sebagai contoh "suku Baduy", maka orang yang bersangkutan harus meninggalkan tempat itu dan tidak diperbolehkan tinggal disitu karena dianggap sudah menentang kebudayaan mereka. Berbeda lagi dengan di kota besar seperti contohnya "Jakarta", di Jakarta pernikahan beda agama sudah dianggap biasa dan tidak menentang kebudayaan yang ada. Maka dari itu dilihat dari bagaimana mereka memandang dan memaknainya.

3. Struktural Perspektif Fungsional

Dalam perspektif ini, masyarakat dianggap sebagai jaringan yang terorganisir, yang masing-masing memiliki fungsi. Pranata sosial dalam masyarkaat memiliki fungsi dan peran masing-masing yang saling mendukung. Masyarakat dianggap sebagai sistem yang stabil yang cenderung mengarah untuk mempertahankan sistem keseimbangan harmoni dan pandangan ini banyak intelektual memeluk Orde Baru mendukung kekuasaan pemerintah.

PENDAPAT
Pernikahan beda agama menurut perspektif fungsional, struktur tubuh manusia memiliki berbagai bagian yang saling berhubungan satu sama lain. Oleh karena itu, masyarakat memiliki kelembagaan yang saling terkait dan tergantung satu sama lain. Sama seperti halnya manusia dengan Tuhan, mereka saling terkait satu sama lain. Dalam agama mereka memang mempertahankan sistem keseimbangan harmoni, akan tetapi pernikahan juga merupakan berhubungan satu sama lain dan tergantung sama lain. Agama itu merupakan satu kesatuan, meskipun berbeda agama tetapi tujuan dan fungsi dari agama itu sama yaitu menyatukan satu sama lain untuk lebih dekat dengan Tuhan. Sehingga pernikahan beda agama itu menyatukan dua agama menjadi satu meskipun berbeda akan tetapi fungsi dan tujuan yang mereka inginkan itu sama yaitu dekat dengan Tuhan.

4. Perspektif Konflik
Pendekatan ini terutama didasarkan pada ide-ide Karl Marx. Teori konflik melihat orang-orang yang berada dalam konflik terus-menerus dalam kelompok atara atau kelas. Dalam pandangan teori konflik diakuasai masyarakat dengan beberapa kelompok atau orang-orang yang memiliki kekuatan dominan. Selain Marx dan Hegel tokoh lain dalam pendekatan konflik adalah Lews Coser.

PENDAPAT
Perang antar kelompok bisa disamakan dengan perjuangan untuk bertahan hidup dan terkuat yang menang dalam kehidupan sosial. Besar kebencian dan melekat antar kelompok, antar-ras dan antar-orang yang berbeda menyebabkan konflik yang tak terhindarkan. Pada zaman dulu pernikahan beda agama bisa akan menyebabkan perang antar kelompok, akan tetapi pemikiran orang akan terus berevolusi dan berkembang tidak hanya disitu saja, maka konflik ini makin lama akan semakin dipertimbangkan kembali kepentingannya dan tujuan dari konflik tersebut sehingga pemikiran orang mulai berubah, agama membantu mereka untuk bersatu, contohnya pernikahan yang berbeda agama, dengan salah satu contoh itu mereka menjadi mengesampingkan rasa kebencian satu sama lain yang sudah melekat antar kelompok, antar-ras, dan antar-orang yang berbeda.

Referensi: 

No comments:

Post a Comment

Thursday, June 12, 2014

Pernikahan Beda Agama menurut Perspektif Sosiologi

Pengertian

Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial.

Agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, system budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/perintah dari kehidupan.

Perbedaan yaitu perihal yang berbeda; perihal yang membuat berbeda.

Agama menurut Perspektif Sosiologi

Konsep sosiologi agama, dalam pandangan sosiolog, agama diwujudkan dalam kehidupan masyarakat adalah fakta sosial. Sebagai fakta sosial, sosiolog agama dipelajari dengan menggunakan pendekatan ilmiah. Disiplin digunakan oleh sosiolog dalam studi masyarakat religius yang disebut sosiologi agama. Sosiologi agama adalah cabang ilmu yang otonom, muncul setelah abad ke-19. Pada prinsipnya, pengetahuan ini sama dengan sosiologi umum, sosiologi agama saat berbicara tentang salah satu aspek dari berbagai fenomena sosial, yaitu agama dalam perwujudan sosial. Sosiologi agama difokuskan terutama pada pemahaman arti yang diberikan oleh masyarakat kepada sistem keagamaan sendiri, dan berbagai hubungan antara agama dan struktur sosial lainnya, serta dengan berbagai aspek budaya bukan agama.

Sosiolog pandang agama agama sebagai arti luas dan universal, dari sudut pandang sosial dan bukan hanya berbicara tentang agama yang diperiksa oleh penganut agama tertentu, tetapi semua agama dan di semua wilayah di dunia tidak memihak dan memilah-milah. Studi mengangkat tidak diarahkan bagaimana orang yang religius, melainkan diarahkan untuk kehidupan keagamaan kolektif terutama difokuskan pada fungsi agama dalam mengembangkan atau menghambat kelangsungan hidup dan pemeliharaan kelompok masyarakat. Perhatiannya juga diarahkan pada agama sebagai salah satu aspek dari perilaku kelompok dan peran yang dimainkannya selama berabad-abad sampai sekarang.

PENDAPAT
Jadi menurut saya, pernikahan berbeda agama itu sah dan boleh akan tetapi tergantung juga dengan pandangan dari masing-masing orang apakah mereka mau menikah berbeda agama atau tidak. Akan tetapi di Indonesia banyak orang yang menikah berbeda agama dan itu legal dan sah apabila menikah secara benar. Menikah berbeda agama sangat tidak membatasi setiap orang untuk menikah, akan tetapi dari perbedaan itu mungkin saja akan memunculkan sesuatu yang lebih baik. Mungkin untuk beberapa orang menikah berbeda agama di anggap tidak baik karena akan merugikan kedua belah pihak, baik dari orang yang bersangkutan maupun keluarga atau karena mereka malu dengan pandangan orang lain di sekitarnya. Agama kita masing-masing juga telah menyebutkan "kasihilah sesamamu seperti kamu mengasihi dirimu" dari kata itu saja sudah sangat menunjukkan bahwa perbedaan agama tidak menghalangi kita untuk berinteraksi dengan orang lain, menjalin hubungan dengan orang lain yang berbeda agama, berbeda lingkungan sosialnya dan lainnya.


Perspektif dalam Sosiologi

Perspektif sosiologis adalah pola observasi sosiologi dalam mempelajari tentang kehidupan masyarakat dengan semua aspek kehidupan sosial atau proses di dalamnya.

1. Perspektif Evolusi

Evolusi itu sendiri didefinisikan sebagai perubahan sehingga jika dikaitkan dengan sosiologi yang berfokus pada pola-pola perubahan di masyarakat kehidupannya.Perpektif pandangan teoritis evolusi awal dalam sosiologi. Pandangan ini didasarkan pada karya Auguste Comte, Herbert Spencer, dan Ibnu Khaldun. Karakter ini terlihat pada pola perubahan dalam masyarakat. Mereka belajar dengan penekanan pada evolusi masyarakat.


Sampel Latar Belakang: Karena sistem yang mengatur kehidupan etik. Dan Individu tunduk pada sistem. Sistem ini datang melalui sebuah proses evolusi yang panjang dan saling ketergantungan antara bagian. Masyarakat juga berkembang dengan sendirinya terlepas dari kehendak dan kesadaran individu.


PENDAPAT
Pernikahan beda agama menurut perspektif evolusi, dari zaman ke zaman bahwa perubahan itu berfokus pada pola-pola perubahan di masyarakat. Yang berarti pada zaman dahulu pernikahan berbeda agama masih di tentang oleh berbagai pihak, dan seiring berjalannya waktu perubahan atau evolusi ini pun terjadi, berbagai pihak mulai mempertimbangkan dan menyetujui adanya pernikahan beda agama karena tidak merusak agama dari masing-masing pihak dan tidak menyeleweng dari agama mereka sehingga pada akhirnya pernikahan yang berbeda agama di anggap sah dan baik.

2. Perspektif interaksionis atau simbolik

Pandangan ini meneliti komunitas interaksi simbolik yang terjadi antara individu dan kelompok masyarakat. Orang-orang yang percaya pada interaksionis misalnya GH Mead dan CH Cooley. Mereka berpendapat bahwa interaksi manusia terjadi melalui serangkaian simbol yang meliputi gerakan, tulisan, ucapan, gerak tubuh, dan sebagainya. Pandangan ini lebih mengarah pada studi tentang individu atau kelompok kecil dalam masyarakat, bukan dalam kelompok besar atau lembaga sosial.

PENDAPAT
Pernikahan beda agama menurut perspektif interaksionis atau simbolik, jadi pernikahan beda agama itu memiliki makna tersendiri tergantung pada siapa atau bagaimana mereka memandang pernikahan beda agama itu sendiri. Apabila pernikahan beda agama dilakukan di desa yang masih memiliki kebudayaan yang sangat kuat sebagai contoh "suku Baduy", maka orang yang bersangkutan harus meninggalkan tempat itu dan tidak diperbolehkan tinggal disitu karena dianggap sudah menentang kebudayaan mereka. Berbeda lagi dengan di kota besar seperti contohnya "Jakarta", di Jakarta pernikahan beda agama sudah dianggap biasa dan tidak menentang kebudayaan yang ada. Maka dari itu dilihat dari bagaimana mereka memandang dan memaknainya.

3. Struktural Perspektif Fungsional

Dalam perspektif ini, masyarakat dianggap sebagai jaringan yang terorganisir, yang masing-masing memiliki fungsi. Pranata sosial dalam masyarkaat memiliki fungsi dan peran masing-masing yang saling mendukung. Masyarakat dianggap sebagai sistem yang stabil yang cenderung mengarah untuk mempertahankan sistem keseimbangan harmoni dan pandangan ini banyak intelektual memeluk Orde Baru mendukung kekuasaan pemerintah.

PENDAPAT
Pernikahan beda agama menurut perspektif fungsional, struktur tubuh manusia memiliki berbagai bagian yang saling berhubungan satu sama lain. Oleh karena itu, masyarakat memiliki kelembagaan yang saling terkait dan tergantung satu sama lain. Sama seperti halnya manusia dengan Tuhan, mereka saling terkait satu sama lain. Dalam agama mereka memang mempertahankan sistem keseimbangan harmoni, akan tetapi pernikahan juga merupakan berhubungan satu sama lain dan tergantung sama lain. Agama itu merupakan satu kesatuan, meskipun berbeda agama tetapi tujuan dan fungsi dari agama itu sama yaitu menyatukan satu sama lain untuk lebih dekat dengan Tuhan. Sehingga pernikahan beda agama itu menyatukan dua agama menjadi satu meskipun berbeda akan tetapi fungsi dan tujuan yang mereka inginkan itu sama yaitu dekat dengan Tuhan.

4. Perspektif Konflik
Pendekatan ini terutama didasarkan pada ide-ide Karl Marx. Teori konflik melihat orang-orang yang berada dalam konflik terus-menerus dalam kelompok atara atau kelas. Dalam pandangan teori konflik diakuasai masyarakat dengan beberapa kelompok atau orang-orang yang memiliki kekuatan dominan. Selain Marx dan Hegel tokoh lain dalam pendekatan konflik adalah Lews Coser.

PENDAPAT
Perang antar kelompok bisa disamakan dengan perjuangan untuk bertahan hidup dan terkuat yang menang dalam kehidupan sosial. Besar kebencian dan melekat antar kelompok, antar-ras dan antar-orang yang berbeda menyebabkan konflik yang tak terhindarkan. Pada zaman dulu pernikahan beda agama bisa akan menyebabkan perang antar kelompok, akan tetapi pemikiran orang akan terus berevolusi dan berkembang tidak hanya disitu saja, maka konflik ini makin lama akan semakin dipertimbangkan kembali kepentingannya dan tujuan dari konflik tersebut sehingga pemikiran orang mulai berubah, agama membantu mereka untuk bersatu, contohnya pernikahan yang berbeda agama, dengan salah satu contoh itu mereka menjadi mengesampingkan rasa kebencian satu sama lain yang sudah melekat antar kelompok, antar-ras, dan antar-orang yang berbeda.

Referensi: 

No comments:

Post a Comment