Jiwa atau Jiva berasal dari bahasa sanskerta yang artinya benih kehidupan.
Dalam berbagai agama dan filsafat, jiwa adalah bagian yang bukan jasmaniah (immaterial) dari seseorang. Biasanya jiwa dipercaya mencakup pikiran dan kepribadian dan sinonim dengan roh, akal, atau awak diri.
Di dalam teologi, jiwa dipercaya hidup terus setelah seseorang meninggal, dan sebagian agama mengajarkan bahwa Tuhan adalah pencipta jiwa. Di beberapa budaya, benda-benda mati dikatakan memiliki jiwa, kepercayaan ini disebut animisme.
Penggunaan istilah jiwa dan roh seringkali sama, meskipun kata yang pertama lebih sering berhubungan dengan keduniaan dibandingkan kata yang kedua. Jiwa dan psyche bisa juga digunakan secara sinonimous, meskipun psyche lebih berkonotasi fisik, sedangkan jiwa berhubungan dekat dengan metafisik dan agama.
Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata jiwa memiliki arti roh manusia (yang ada di di tubuh dan menyebabkan seseorang hidup atau nyawa. Jiwa juga diartikan sebagai seluruh kehidupan batin manusia (yang terjadi dari perasaan, pikiran, angan-angan, dan sebagainya)
Jiwa manusia, sebenarnya berbeda dengan jiwa makhluk yang lain seperti binatang, pohon, dan sebagainya. Jiwa manusia bagaikan alam semesta, atau alam semesta itu sendiri,yang tersembunyi di dalam tubuh manusia.dan trus bergerak dam berotasi.
Dalam mempelajari jiwa, perlu sebuah alat atau ilmu sebagai bahan pendekatan untuk mengetahui objek tersebut. Jiwa merupakan objek keilmuan dan salah satu alat untuk mendekati objek itu adalah psikologi.
Jiwa merupakan kajian utama pada ruang lingkup psikologi, berbeda dengan fisiologi yang mempelajari struktur dan fungsi organ fisik biologis manusia, karena psikologi secara etimologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang jiwa.
Jika dilihat dari asal katanya, psikologi berasal dari kata Yunani yaitu psyche dan logos. Dalam bahasa Inggris yaitu soul, mind, spirit. Dalam bahasa Indonesia ketiga kata-kata tersebut dapat diwakili oleh satu kata yaitu “jiwa”. Karena itulah kebanyakan orang cenderung mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa.
Namun hakikat jiwa, tak seorangpun yang tahu. Karena kekaburan arti itu, sering timbul berbagai pendapat mengenai definisi psikologi yang saling berbeda, sesuai dengan sudut pandang dan penafsiran masing-masing tokoh.
Dengan asumsi bahwa perilaku merupakan ungkapan dan cerminan dari kondisi, proses, dan fungsi-fungsi kejiwaan, maka psikologi membatasi diri hanya mempelajari gejala-gejala kejiwaan, khususnya kondisi, proses, dan fungsi-fungsi kejiwaan, dan untuk lebih mendapatkan kejelasan sasaran telaah metodologi dan efektifitas teknik-teknik pendekatannya.
Sarlito Wirawan Sarwono dalam bukunya Pengantar Umum Psikologi memberikan definisi tentang psikologi yang sekiranya bisa diterima oleh semua pihak. Dia mengemukakan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya.
Dalam definisi tersebut, terdapat beberapa unsur, terkait dengan jiwa. Tingkah laku atau perbuatan mempunyai arti yang lebih konkret dari pada jiwa. Karena lebih konkret itu, maka tingkah laku lebih mudah dipelajari dari pada jiwa dan melalui tingkah laku kita dapat mengenal seseorang. Sedangkan tingkah laku yang tertutup adalah tingkah laku yang hanya dapat diketahui secara tidak langsung dengan melalui alat-alat atau metode-metode khusus, tingkah laku tertutup ini misalnya keadaan berfikir, sedih, berkhayal, bermimpi, takut dan sebagainya.
Jadi, pengertian jiwa dalam perspektif psikologi merupakan cerminan dari perilaku yang dimunculkan oleh seseorang dalam bentuk tindakan dan perbuatan nyata yang meliputi tindakan yang dapat teramati (perilaku terbuka) maupun tindakan yang tidak dapat diamati secara langsung (perilaku tertutup) dalam hubungannya dengan realitas ekternal di luar dirinya.
Encyclopædia Britannica. 2008. Retrieved November 12, 2008.
The Columbia Encyclopedia, Sixth Edition. 2001-07. etrieved November 12, 2008.
Hillman J (T Moore, Ed.) (1989). A blue fire: Selected writings by James Hillman. New York, NY, USA: HarperPerennial. hlm. 112–129.
Hillman J (T Moore, Ed.) (1989). A blue fire: Selected writings by James Hillman. New York, NY, USA: HarperPerennial. hlm. 20.

Artikel yang bagus mengenai pehaman jiwa secara keseluruhan
ReplyDelete